Pages

18 Februari 2014

Basarnas Terima Dua Helikopter Baru Multifungsi





Metrotvnews.com, Jakarta: Dua helikopter baru Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) berjenis Douphin AS 365N3 dilengkapi peralatan penunjang kerja Basarnas. Antara lain hoist untuk mengevakuasi korban, dan radar cuaca.

"Diharapkan dapat menunjang kerja Basarnas guna lebih mengoptimalkan kegiatan dan operasi SAR," jelas Sekretaris Utama Basarnas Max Ruland B di Lapangan Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (18/2).

Helikopter ini berasal dari Perancis yang di-costumize kembali oleh PT Dirgantara Indonesia. "Kami melakukan konfigurasi costumize, sehingga dapat melaksanakan tugas Basarnas dengan baik," ungkap Direktur Teknologi & Pengembangan PT Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana Lapangan Udara Pondok Cabe.

Menurut Andi, helikopter Douphin AS 365N3 telah dilengkapi dengan peralatan rescue. Seperti hoist untuk mengevakuasi korban, radar cuaca, dan forward looking infrared cameras ( FLIR). "Untuk keadaan sulit, helikopter ini mampu melaksanakan tugas," jelas Andi.

Dua helikopter ini merupakan pengadaan tahun 2013 dan 2014. Sebelumnya, Douphin AS 365N3 telah diserahkan oleh PT Dirgantara Indonesia kepada Basarnas pada 17 Desember 2013 di kawasan produksi II PT Dirgantara di Bandung.

Dengan helikopter Douphin ini diharapkan agar masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat dibantu secara optimal. "Konfigurasi ini kita buat cocok sekali dengan Basarnas," jelas Andi.

Ini Alasan Pemerintah Beli Kapal Selam Dari Korea Selatan


Merdeka.com - Indonesia sebagai negara maritim setidaknya harus mempunyai 12 kapal selam sebagai alat perang yang digunakan oleh TNI AL (Angkatan Laut). Kapal selam ini dibutuhkan untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.

Saat ini Indonesia hanya memiliki 2 kapal selam dengan umur yang sudah sangat tua. Sehingga perlu adanya tambahan untuk menambah kekuatan pertahanan nasional.
Mewujudkan ini semua, pemerintah akhirnya menjalin kerja sama dengan Korea Selatan. Pemerintah harus menggelontorkan dana sekitar Rp 2,9 triliun. Dalam kerja sama ini, pemerintah akan membeli dua kapal selam dari Korea Selatan. Selanjutnya untuk 10 selanjutnya, alutsista tersebut akan dibuat sendiri oleh PT. PAL Indonesia.

Kerja sama ini sendiri menggunakan skema transfer of technology (TOT) dengan PT PAL. Nantinya ke depan, PT PAL akan mampu membuat sendiri kapal selam made in Indonesia.
Pemerintah memilih Korea Selatan sebagai tempat pembelian kapal selam karena pertimbangan harga yang lebih murah dari negara lain. Untuk harga 3 kapal selam dari Korea Selatan sebesar USD 1 miliar, sedangkan dari negara lainnya harga per unit bisa mencapai USD 450 juta- USD 500 juta.

"Salah satunya lebih murah, 3 kapal selam dari Korsel itu harganya USD 1 miliar. Dengan angka itu enggak mungkin dapat dari Eropa. (Negara) yang lain itu sekitar USD 450 - USD 500 juta untuk satu kapalnya," ujar Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Rahmat Lubis usai rapat kerja dengan Komisi I DPR di Gedung DPR, Jakarta, Senin (17/2).

Selain masalah harga, Korea Selatan juga merupakan mitra mumpuni dari segi kualitas, bahkan dalam pengadaan selalu cepat dalam pengiriman barang. "Setiap kita beli itu selalu yang murah, bagus, cepat dan kalau rusak bisa diperbaiki," lanjut Rahmat.

Menurutnya, produsen kapal selam Korea Selatan dapat membagi ilmunya serta mau datang ke Indonesia untuk membimbing PT PAL Indonesia untuk membuat kapal selam sendiri. Secara kualitas, kapal selam dari Korea Selatan memiliki kecanggihan yang sama dengan kapal selam sejenisnya. Kapal selam tersebut memiliki berat 1.600 ton yang dilengkapi torpedo.

"Kecanggihan diesel elektrik relatif sama dengan yang lain harus senyap tahan lama, senjata harus standar dengan kapal," tegasnya. Kapal selam ini rencananya akan mulai dibuat di dalam negeri pada bulan November mendatang. Produksi ini disebut akan memperkuat alutsista yang dimiliki oleh Indonesia demi menjaga kedaulatan negara.

Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanudin, berkelakar jika selama ini Indonesia baru mampu membuat kapal selam dalam bentuk makanan. Yakni pempek yang terkenal dari Palembang. "Ini sebuah loncatan tekno. Selama ini kapal selam palembang," katanya sembari tertawa saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Senin (17/2).

Kementerian Keuangan sendiri telah setuju menambah modal PT PAL sebesar USD 250 juta atau setara Rp 2,9 triliun dalam tiga tahun melalui mekanisme Penyertaan Modal Negara (PMN). Dana sebesar itu bakal digunakan BUMN perkapalan tersebut untuk membuat kapal selam.

Direktur Utama PT PAL Firmansyah mengatakan kapal selam pertama akan selesai dibuat pada 2017. Kemudian, kapal selam kedua penyelesaiannya dipercepat pada 2019-2020. "Kapal selam ini berbeda dengan tahun 2009, ini lebih panjang dan lebar," katanya.

17 Februari 2014

TNI Beli 12 Kapal Selam, 10 Unit akan Diproduksi di Surabaya

Jakarta -TNI AL membutuhkan sedikitnya 12 kapal selam baru untuk mengganti 2 kapal selam yang saat ini kondisinya sudah tua. Kapal selam ini, untuk memenuhi standar Minimum Essential Force (MEF) pertahanan Indonesia.

TNI AL melalui Kementerian Pertahanan membeli 3 kapal selam dari Daewoo Shipbuilding Marine Engineering. Sebanyak 2 kapal selam akan diproduksi di Korea Selatan (Korsel) dan 1 unit akan diproduksi di Galangan Kapal PT PAL (Persero), Surabaya, Jawa Timur

Kapal ini ditargetkan tiba ke Tanah Air secara bertahap paling cepat tahun 2016 dan 2017. Sedangkan 10 unit dikembangkan dan diproduksi oleh PT PAL.

"Pembuatan 10 kapal selam ini memungkinkan dibuat di Indonesia," kata Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro di DPR Senayan Jakarta, Senin (17/2/2014).

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR-RI, TB Hasanuddin menjelaskan untuk pengembangan di dalam negeri, PT PAL menggandeng Daewoo. Kerjasama ini memungkinkan pengalihan teknologi atau transfer of technology (ToT) oleh Daewoo ke PT PAL.

Selanjutnya PT PAL akan memproduksi kapal selam ke-3 hingga ke-12 di Surabaya. Saat kapal selam ke-1 dan ke-2 diproduksi di Korsel, PT PAL menyiapkan infrastuktur fisik dan tenaga ahli untuk pengembangan dan produksi di Surabaya mulai tahun ini.

Pengembangan ini bakal dibantu suntikan modal pemerintah melalui skema Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai US$ 250 juta atau kurang lebih Rp 2,5 triliun.

"Kapal selam ke-3 hingga ke-12 dibuat di dalam negeri. April sampai November, kita mulai siapkan SDM, infrastruktur dan TOT PT PAL," sebutnya.

Menurutnya pengembangan kapal selam di dalam negeri bisa menjadi batu loncatan untuk perkembangan industri pertahanan. Bahkan PT PAL diharapkan bisa menjual kapal selam karya putra putri tanah air ke luar negeri atau mengembangkan berbagai varian kapal selam.

"Ini sebuah loncatan teknologi. Selama ini kita punya kapal selam (pempek) dari Palembang," kata TB Hasanuddin berseloroh sambil tertawa.

(detikfinance)