![]() |
(foto: en.wikipedia.org)
|
Tanggal 7
November lalu, seperti diberitakan oleh berbagai media cetak dan elektronik di
Tanah Air, pesawat C-17 Globemaster III yang merupakan pesawat pengangkut
logistik Presiden Amerika Serikat Barack Obama tiba di Bandar Udara Ngurah Rai,
Denpasar, Bali.
Presiden Barack Obama bersama pemimpin negara-negara maju dan berkembang, berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-19 yang berlangsung di Bali pada tanggal 14-19 November. Pesawat C-17 Globemaster III milik Angkatan Udara AS (US Air Force) ini melakukan beberapa kali penerbangan ke Bali untuk mengangkut logistik, termasuk sejumlah peralatan pengamanan yang dibutuhkan.
Presiden Barack Obama bersama pemimpin negara-negara maju dan berkembang, berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-19 yang berlangsung di Bali pada tanggal 14-19 November. Pesawat C-17 Globemaster III milik Angkatan Udara AS (US Air Force) ini melakukan beberapa kali penerbangan ke Bali untuk mengangkut logistik, termasuk sejumlah peralatan pengamanan yang dibutuhkan.
Selain itu, C-17
juga mengangkut mobil limusin antipeluru dan personel pengamanan khusus untuk
keperluan pengamanan Presiden Obama. Maklumlah, selama di Bali, orang
nomor satu di Negeri Paman Sam itu tidak menggunakan mobil tamu negara yang
disediakan pemerintah Indonesia, tetapi menggunakan mobil limusin antipeluru yang
didatangkan langsung dari AS.
Sebenarnya ini
bukan pertama kalinya C-17 terbang ke Indonesia. Buktinya, akhir Juni lalu,
pesawat angkut militer ini pernah ''berkunjung'' ke Indonesia, dalam artian
melanggar batas wilayah udara Indonesia. Pesawat itu kemudian berhasil dihalau
keluar hingga Morotai oleh TNI AU (detikNews.com, 20/7).
![]() |
| Suasana ruang kargo C-17 (foto: wikimedia.org) |
Lalu seperti apa
sosok pesawat C-17 Globemaster itu?
C-17 Globemaster
III adalah pesawat angkut militer buatan Amerika Serikat, lebih tepatnya
diproduksi oleh McDonnell Douglas (sekarang Boeing Company). McDonnell Douglas
merupakan produsen pesawat terbang yang memproduksi sejumlah pesawat
komersial dan militer. Salah satu produknya yang terkenal adalah pesawat
DC-9. Pada tahun 1997, McDonnell Douglas melakukan merger dengan Boeing
sehingga sekarang menjadi bagian dari Boeing Company.
Sebagaimana
dilansir oleh www.globalsecurity.org, sejarah pembuatan C-17 Globemaster III
dimulai pada bulan Desember 1979, tatkala Departemen Pertahanan AS memprakarsai
kompetisi Pesawat Kargo Eksperimental dengan kode CX (Cargo-Experimental) untuk
memenuhi kebutuhan pesawat angkut strategisnya. Ada tiga perusahaan yang
bersaing, yaitu Boeing, Lockheed, dan McDonnell Douglas. Pada bulan Agustus
1981 McDonnell Douglas Corporation diumumkan sebagai pemenang kompetisi.
Awalnya program
pesawat C-17 menemui banyak masalah, mulai dari kesulitan teknis hingga masalah
anggaran, sehingga menyebabkan penundaan penerbangan perdananya yang
direncanakan dilakukan pada tahun 1990. Masalah yang pada awalnya mengganjal
program pesawat C-17, toh pada akhirnya bisa diatasi.
Setelah beberapa
kali penundaan, pada tanggal 15 September 1991, pesawat T-1 (prototipe pertama
C-17) akhirnya berhasil melakukan penerbangan perdananya dari pabrik McDonnell
Douglas di Long Beach, California. Pada bulan Januari 1995, skuadron pertama
C-17 mulai operasional di lingkungan Angkatan Udara AS.
Nickname atau
nama julukan ''Globemaster III'' diberikan pada pesawat C-17 di tahun 1993.
Label ''III'' tak lain dan tak bukan karena nama C-17 Globemaster III mengambil
nama yang sama dari dua pesawat angkut militer pendahulunya yakni C-74
Globemaster dan C-124 Globemaster II. Pesawat dengan nama yang sama dan fungsi
yang relatif sama, diberi label I, II, dan III di belakang nama julukannya. Ibarat
saudara kembar ada urutan namanya.
![]() |
| Kokpit C-17 Globemaster (foto: www.flightglobal.org) |
Banyak
Kelebihan
Dilihat dari
tampilan luarnya, pesawat C-17 mudah dikenali karena bentuknya yang khas.
Memiliki badan besar dengan sayap di atas (high-wing), empat mesin jet
turbofan, ramp door (pintu miring dibelakang pesawat) dan ekor tegak lurus,
lebar dan menjulang tinggi membentuk huruf T menjadi cirinya.
Bicara soal
kemampuan, C-17 dirancang memiliki banyak kelebihan. Sebagai pesawat angkut
militer, C-17 memiliki kemampuan angkut yang tergolong besar dan ukuran ruang
kargo yang luas sehingga memungkinkan untuk memuat tank, artileri, truk, rudal,
hingga helikopter. Selain itu, ruang kargo C-17 bisa diubah untuk keperluan
angkut kontainer, pasukan payung ataupun evakuasi medis. Untuk memudahkan
penyesuaian itu semua, di bagian belakang pesawat dilengkapi dengan ramp door.
Pesawat C-17
umumya diawaki oleh tiga orang kru yang terdiri dari pilot, kopilot, dan
loadmaster (bertugas mempersiapkan naik dan turunnya barang dari pesawat). Untuk urusan teknologi, kokpit C-17 sudah menggunakan teknologi digital.
Panel-panel kokpit sudah dilengkapi empat layar multifungsi CRT (cathode-ray
tube) buatan Honeywell dan dua HUD (Head Up Displays).
Untuk urusan
mesin, pesawat angkut ini memakai empat mesin jet turbofan F117-PW-100 buatan
Pratt & Whitney. Masing-masing mesin jet menghasilkan daya dorong 40.400 lb
(180 kN). Dengan empat mesin jet, C-17 memiliki kecepatan jelajah hingga
833 km/jam (450 knot). Selain itu, C-17 dirancang memiliki kemampuan lepas
landas dan mendarat di landasan pendek sepanjang 1.064 meter dan lebar 27 meter.
Di segmen pesawat angkut militer sekelasnya, C-17 akan bersaing dengan pesawat angkut militer A400M buatan Airbus Military.Airbus Military selama ini memang dikenal sebagai rival bagi pesawat terbang buatan Boeing, baik untuk pesawat sipil maupun militer.
Setelah 20 tahun berlalu,
Boeing Company, seperti dirilis situs Boeing.com (16/9), menandai peringatan 20 tahun penerbangan perdana C-17. Peringatan ditandai dengan penerbangan kembali pesawat T-1 di Long Beach, California pada
15 September lalu. Selama
20 tahun
terakhir, Boeing telah menyerahkan 235 unit pesawat C-17 dengan rincian: 211 unit ke Angkatan Udara AS, sedangkan sisanya dioperasikan oleh
Australia, Kanada, Inggris, Qatar, United Emirat Arab, dan NATO. Bulan Juni
lalu, Boeing
juga mendapat pesanan baru dari India. Tak tanggung-tanggung, Menteri Pertahanan Negeri
Bollywood itu menandatangani pembelian 10 unit pesawat C-17 sekaligus.
Pesawat C-17 Globemaster III merupakan salah satu pesawat angkut
militer andalan Boeing dalam meraih pangsa pasar pesawat angkut militer dunia. Melihat
segala keunggulan yang dimilikinya, maka tak salah jika C-17 Globemaster III kemudian
menjadi salah satu pesawat pengangkut logistik pilihan Angkatan Udara AS.
Spesifikasi C-17 Globemaster III:
Panjang: 53,04 m
Rentang sayap: 52,2 m
Tinggi: 16,79 m
MTOW: 263 ton
Kecepatan jelajah: 833 km/jam
Jarak jangkau: 8.710 km
Mesin: 4 X Pratt & Whitney F-117 PW-100
Panjang: 53,04 m
Rentang sayap: 52,2 m
Tinggi: 16,79 m
MTOW: 263 ton
Kecepatan jelajah: 833 km/jam
Jarak jangkau: 8.710 km
Mesin: 4 X Pratt & Whitney F-117 PW-100
*) Tulisan ini sudah dimuat Harian Suara Merdeka tanggal 28/11/2011




0 komentar:
Poskan Komentar