Pages

30 Januari 2012

APR-1: Ranpur Battle Proven Buatan Pindad

APR-1
Melihat lembar sejarahnya, kelahiran panser ini bermula dari embargo peralatan militer yang dilancarkan AS sejak tahun 1999 dan disaat bersamaan banyak alutsista TNI Angkatan Darat macam kendaraan tempur (ranpur) pengangkut personel yang sudah menua tetapi masih menjadi arsenal tempur utama. Terlebih kebutuhan ranpur pengangkut personel kala itu masuk kategori mendesak. Alasannya tak lain karena akan dipakai dalam operasi militer untuk menumpas kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Kesempatan emas datang tatkala Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto pada suatu kesempatan meminta Pindad membuat kendaraan pengangkut personel untuk mengisi kebutuhan TNI. Tanpa banyak gembar-gembor, permintaan itu disambut Pindad dengan melansir kendaraan pengangkut personel berlabel APR-1 (Angkut Personel Ringan-1).

Panser yang masuk kategori Armoured Personnel Carrier (APC) beroda empat ini menggunakan sasis dan mesin truk Isuzu 4x4. Jika melihat sosoknya, panser ini lebih menyerupai mobil Kijang dengan bodi ramping dan memanjang yang dipasangi “baju” lapis baja antipeluru. Selain itu dibagian atas panser terdapat turret atau menara putar yang dapat berputar 360 derajat sebagai kubah tempat penembak.

Walaupun mengadopsi sasis truk—yang tidak berasal dari kendaraan militer, kemampuan panser ini tak bisa dianggap remeh. Lihat saja kemampuannya dalam melahap berbagai medan berat dan terjal. Tak ketinggalan kemampuannya bermanuver dengan lincah dan gesit menjadi keunggulan tersendiri. 

Contoh nyatanya tahun 2004 silam, panser ini pernah membuktikan keampuhannya beraksi di medan tempur saat berlangsungnya Darurat Militer di Aceh. Melihat keandalan dan kebandelannya beroperasi di segala medan plus kemampuannya yang sudah teruji dilapangan maka tak salah jika APR-1 menjadi salah satu ranpur buatan Indonesia yang mendapat predikat battle proven. Luar biasanya, dari 40 APR-1 yang digelar di Aceh, hanya dua unit yang mengalami kerusakan (satu kecelakaan dan satu lagi karena diterjang tsunami).

Keunggulan lainnya,  dari segi kecepatan panser satu ini sanggup digeber hingga kecepatan 100 km/jam. Sehingga memungkinkannya untuk melakukan pengejaran terhadap musuh. Soal persenjataan, APR-1 mampu menggotong beragam senjata yang membuatnya kian garang, mulai dari pelontar granat otomatis AGL-40, senapan mesin berat (SMB) kaliber 12,7 mm, senapan mesin sedang (SMS) kaliber 7,62 mm hingga pelontar granat kaliber 60 mm.

APR-2 (foto: Kina)
Sukses dengan APR-1 garapannya, Pindad kemudian mengembangkan panser dengan nama APR-2. Secara teknis panser ini masih sama dengan sang kakak, terutama yang paling mencolok ada pada jumlah roda dan pemakaian sasis Isuzu yang menjadi kerangka panser. Tetapi secara kasat mata APR-2 berbeda, terutama pada ukuran bodinya yang lebih besar dan menyerupai minibus yang biasa kita lihat sehari-hari. Sehingga kadang-kadang disebut “minibus” lapis baja. Selain itu jika sang kakak dibuat untuk memperkuat TNI, APR-2 dibuat untuk memenuhi kebutuhan Polri.

MRAP

Sebagai gambaran beginilah sosok MRAP 
Mengingat semakin banyaknya kebutuhan TNI AD terhadap berbagai jenis mesin perang darat, maka Pindad—sebagai salah satu industri pertahanan di Indonesia yang fokus pada pembuatan alutsista darat, kini sedang mengembangkan rancangan panser APR-1 Next G. Kabar baik ini berhembus beberapa waktu lalu dari Kiara Condong yang menjadi markas Pindad.

foto: en.wikipedia.org
Kabarnya ranpur ini berbeda dengan varian APR-1 terdahulu. Dari desainnya ranpur anyar ini bakal mengadopsi V-Shapped Hull. Penggunaaan V-Shapped Hull tak lain untuk menangkis ledakan dari bawah kendaraan yang biasanya berasal dari ledakan ranjau darat dan bom pinggir jalan (Improvised Explosive Device/IED). V-Shapped Hull sendiri merupakan salah satu ciri dari MRAP (Mine Resistant Ambush Protected).

Perlu kita tahu, MRAP merupakan ranpur lapis baja yang dirancang khusus untuk melindungi prajurit dari serangan dan sergapan musuh dalam bentuk serangan senjata ringan, bom pinggir jalan maupun serangan ranjau darat.

Selain itu—seperti ciri umum dari MRAP, varian anyar ini bakal memiliki bodi besar yang dilapisi ceramic armour. Diluar itu juga akan menggunakan ban ukuran besar dengan tapak lebar. Jika ranpur ini berhasil dibuat akan menjadi MRAP pertama buatan Indonesia. Dan yang tak kalah penting menjadi salah satu bukti bahwa Pindad tak pernah berhenti berkreasi menciptakan beragam jenis ranpur bagi kebutuhan TNI. (Yudi Supriyono)

Spesifikasi APR-1:
Produsen: PT Pindad
Awak: 12 (1 pengemudi, 1 navigator, dan 10 personel)
Kecepatan maksimum: 100 km/jam
Berat maksimum: 5,2 ton
Ground Clearance: 35 cm
Sasis: NKR 55 buatan Isuzu
Mesin: Turbodiesel 3.200 PK

3 komentar:

Muhammad_Zarkasyi.Blogspot.com mengatakan...

luar biasa!

drajat mengatakan...

Mantab lah Indonesiaku....

Anonim mengatakan...

Tapi ko APR-1 bentuk nya aneh gitu ya..
Masih kurang sangar buat kendaraan tempur

Poskan Komentar