Pages

9 Januari 2012

Jangan Remehkan Alutsista TNI

AMX-13 (foto: balitbang.kemhan.go.id)
“Kekuatan angkatan bersenjata yang didukung dengan alutsista yang kuat menjadi salah satu ukuran kewibawaan suatu negara di kawasan regional maupun internasional. Negara yang dilengkapi dengan alutsista kuat akan jauh lebih disegani daripada negara dengan alutsista lemah. Hal ini tidaklah berlebihan bila dilihat dari aspek fungsi alutsista sebagai bagian dari komponen utama dalam menangkis intervensi, agresi atau invasi dari suatu negara”.

Barisan kalimat diatas merupakan sekelumit penggalan tentang posisi penting alutsista bagi suatu negara, tak terkecuali Indonesia. Membicarakan alutsista TNI, tentunya tak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa sebagian besar alutsista yang dipakai merupakan produk yang sudah ketinggalan zaman karena dari waktu ke waktu alutsista TNI yang tergolong canggih pada masanya berangsur-angsur mulai memudar. Sedangkan hal itu tak dibarengi dengan pengadaan alutsista baru dalam jumlah yang memadai.

Harap maklum jika sampai saat ini kita masih bisa melihat beberapa alutsista lawas masih memperkuat TNI kita. Dari matra darat ada tank AMX-13 buatan tahun 1958 dan Tank Sorpion yang dibeli di tahun 1990-an. Di matra laut ada kapal selam KRI Cakra dan KRI Nanggala. Di matra udara ada pesawat tempur F-5 Tiger dan F-16 Fighting Falcon.

Sayangnya hanya berdasarkan gambaran alutsista lawas dan bekas, beberapa media di tanah air—yang umumnya tidak berkecimpung di dunia militer dan petahanan serta (maaf) “buta” akan kekuatan TNI, dengan gampang beropini bahwa alutsista TNI serba ketinggalan dan lemah. Gambaran TNI menurut mereka adalah angkatan bersenjata yang diperkuat dengan sejumlah alutsista tua, lawas, uzur, gaek, kadaluarsa, dan bahasa lain sejenisnya. Kalaupun ada yang “baru” itupun lagi-lagi bekas. Begitu kata mereka.

Sea Trial KRI Nanggala di Korea Selatan (foto: arc.web.id)
Tak ketinggalan beberapa orang yang sinis dengan postur TNI, terkesan bicara seenak dan semau gue. Sebagai contoh, pernah dalam suatu wawancara TV, ada narasumber dengan enteng nyletuk bahwa alutsista TNI masih lemah, ketika ditanya mengapa, si narasumber entah bingung entah linglung menjawab bahwa alutsista TNI belum sekuat Amerika Serikat. Pertanyaannya apakah untuk kuat harus setara dengan Amerika? Dalam perang Vietnam, AS yang dikenal sebagai “petinju agresif” kalah menyakitkan dari Vietnam yang notabene masih lemah dibidang militer.

Selain itu, yang paling baru tentunya tayangan salah satu stasiun TV minggu lalu. Dalam tayangan itu dengan nada menyindir mereka memberitakan pembelian alutsista bekas yang dilakukan TNI. Mereka tak peduli apakah anggaran yang dimiliki TNI sudah mencukupi untuk membeli alutsista baru atau belum. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana mengekspos pembelian alutsista bekas. Saking semangatnya mereka tak mau tahu jika alutsista bekas tak selalu buruk. Bagi mereka alutsista bekas identik dengan kualitas bawah. Tak bermutu dan tak layak pakai.

Tetapi anehnya mereka sibuk membahas alutsista lawas dan bekas milik TNI tanpa melihat dari sudut pandang lain. Mereka seolah asyik bicara sendiri tentang kelemahan TNI dan menutup mata dari kenyataan bahwa TNI telah melakukan program revitalisasi persenjataan. Ibarat kertas dan tinta, mereka sepertinya lebih suka membahas satu titik hitam daripada selembar kertas putih. Padahal dengan revitalisasi persenjataan, alutsista lawas yang dipakai TNI sedikit demi sedikit digantikan dengan alutsista yang lebih sesuai dengan zamannya.

F-5 Tiger  TNI AU (foto: tandef.net)
Dalam konteks ini, TNI meski ditengah keterbatasan, juga tak hanya duduk manis menanti tambahan alutsista. Dengan sabar dan telaten kita bisa lihat bagaimana TNI berusaha meng-update alutsistanya meski dalam porsi yang tidak begitu besar. Beberapa diantaranya melalui bantuan kredir ekspor dari Rusia senilai 1 milyar dollar—yang kemudian sebagian dananya dipakai untuk membeli Sukhoi dan tank amfibi BMP-3F, kemudian kerjasama dengan Korsel yang kemudian menghibahkan LVT-nya, pembelian jet latih tempur T-50 dari Korsel, dan pembelian Super Tucano dari Brazil.

Seolah tak hanya ingin asyik beli tapi lupa alih teknologi, TNI beserta Kementerian Pertahanan juga ikut mendorong dan merumuskan kerjasama pertahanan dengan negara-negara sahabat. Tengok saja kerjasama pembuatan pesawat tempur KF-X/IF-X antara PT DI dengan Korea Aerospace Industry, kerjasama pembuatan kapal selam antara PT PAL dengan Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME), kerjasama pembuatan kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) antara PT PAL dengan Damen Schelde Netherlands Shipyard (DSNS), dan masih banyak lagi.

Semua langkah ini dilakukan dengan satu tujuan mulia yaitu untuk membangun postur pertahanan TNI yang kuat di darat, laut dan udara dengan tetap mengikuti arah perkembangan tenologi. Sehingga nantinya akan mampu meningkatkan kemampuan dan skill perajurit penjaga kedaulatan NKRI yang tidak gagap jika bersanding dengan alutsista modern.

Yudi Supriyono, 9 Januari 2012

10 komentar:

Anonim mengatakan...

Good ane setuju mas bro. Disamping itu kualitas prajurit pun harus diperhitungkan. jangan sampe seperti negara tetangga yang tentaranya pingsan saat latihan perang bersama.. Loyoooo

Aviasista mengatakan...

betul sekali, gara2 si perajurit banyak minum yang rasa-rasa..wkwk.
kalo tidak salah duga anda jagvane sepertinya.

Anonim mengatakan...

makin tua makin bertuah, pake aja keris,wwakakakakakaka pasti full titanus

Anonim mengatakan...

Mas bro. Tulisan dan opini nya bagus... Saya suka saya suka...

Anonim mengatakan...

seneng alias suka analisa dan optimisme nya Gan... Jayalah Indonesiaku...Tetep Semangaattt.....

Aviasista mengatakan...

Thanks bwt apresiasinya..

kita doakan kedepan alutsista TNI makin kuat dan berotot.

Aviasista mengatakan...

makasih,
pada tahun ini TNI akan dilengkapi alutsista anyar..semoga makin meningkatakan daya tangkal TNI dalam menghalau ancaman terhadap NKRI..jaya Indonesia!!

Anonim mengatakan...

kayaknya gw tau nih yg mas bro maksud, itu tentara negara tetangga yg sukanya mencuri kebudayaan qta bkn mas bro?

Anonim mengatakan...

Maju terus industri pertahanan INDONESIA!!! INDONESIA PASTI BISA!!!

funny mengatakan...

syg nya untuk daya gentar nya masih ada di wilayah asean aja alutsista kita, aussie yg merupakan tetangga kita masih bisa mengusik kedaulatan kita, apalagi ada pangkalan induk semang mereka amerika.

Poskan Komentar