![]() |
| Prototype tank ringan buatan Pindad (Foto: Audrey) |
Pembelian
alutsista oleh suatu negara biasanya didasari faktor ketiadaan industri
pertahanan lokal sehingga pembelian alutsista asing mau tak mau harus
dilakukan. Sedangkan bagi negara yang telah memiliki industri pertahanan
biasanya terjadi karena alutsista yang di inginkan belum mampu diproduksi
sendiri atau sudah mampu diproduksi tetapi masih terbatas pada kualitas yang
bisa dikatakan belum memiliki kecanggihan tinggi.
Dari
banyak segi, sebenarnya pembelian alutsista asing bukannya tanpa keuntungan. Dari
segi kualitas, alutsista impor jelas sudah terjamin (terutama alutsista dari
negara yang selama ini dikenal sebagai produsen alutsista global, seperti AS,
Prancis, dan Rusia), alutsista impor juga membuat suatu negara mampu mengakses alutsista
berteknologi tinggi sehingga tidak ketinggalan dengan negara lain. Selain itu yang
tak kalah penting bagi negara dengan anggaran minim, impor alutsista memberikan
keuntungan karena adanya iming-iming kemudahan pembayaran.
Tapi
toh pembeliannya juga membawa
beberapa kerugian. Dari sisi ekonomi, pembelian alutsista asing dalam kuantitas
banyak akan mendorong pemborosan devisa negara sehingga bisa menyebabkan
defisit neraca pembayaran dengan negara penjual. Impor alutsista juga membuat
negara pembeli dalam posisi tidak aman, karena bakal rentan terkena ancaman
embargo jika negara pembeli tidak memiliki hubungan politik yang baik dengan
negara penjual atau menggunakan alutsista secara tidak benar seperti
pelanggaran HAM. Dalam hal ini negara-negara seperti Indonesia, Iran dan
Venezuela bisa menjadi contohnya.
Mati
Suri
Bagi Indonesia, pembelian pesawat tempur
Sukhoi beberapa waktu lalu bisa menjadi salah satu bukti bahwa impor alutsista
juga menghampiri negeri ini. Langkah impor ini bisa kita kembalikan kepada
posisi Indonesia. Jika boleh jujur, sebenarnya selama ini Indonesia memang belum
menguasai sebagian besar teknologi pembuatan alutsista teknologi tinggi. Sehingga untuk menutupi “kekosongan”, pengadaan alutsista dari negara lain menjadi salah satu pilihan.
Hal ini suka tidak suka memang harus
diakui karena fakta di lapangan berbicara. Alutsista asing bisa ditengok
dari daftar belanja peralatan militer sejak era Orde Baru hingga sekarang mulai
dari pesawat tempur (Su-27/Su-30), kapal perang (SIGMA), kapal selam (Changbogo),
tank (Scorpion, BMP-3F) hingga
radar pertahanan udara (Thomson). Peralatan militer itu entah sedikit entah
banyak merupakan alutsista buatan dari negara-negara seperti Amerika Serikat,
Rusia, Prancis, Inggris, dan Jerman.
Sebagai
gambaran jika pembelian alutsista yang dilakukan Indonesia diakumulasikan
nilainya, bisa dibayangkan berapa devisa yang dikeluarkan oleh bangsa ini untuk
membelinya? Yang jelas jumlah itu tidaklah sedikit, dan tak akan murah layaknya
hanphone China yang memenuhi pasar handphone di Indonesia. Dari sini kemudian kita dikejar dengan
pertanyaan: dimana industri pertahanan Indonesia?
Sedikit
menengok ke masa Orde Baru, industri pertahanan Indonesia pernah mengalami kemajuan yang
luar biasa. Industri ini pernah menjadi “anak emas” terutama sejak B.J Habibie menjabat sebagai Menteri
Riset dan Teknologi. Sebagai contoh pembuatan roket FFAR (Folding Fin Aerial Rocket), SUT Torpedo, dan komponen jet tempur F-16 oleh
PT DI, kemudian pembuatan senapan serbu SS-1 oleh PINDAD, serta pembuatan kapal patroli cepat FPB-57 oleh PT PAL.
Namun, sejak krisis moneter melanda negeri
ini, industri pertahanan kita mengalami “mati suri”. Beragam persoalan melanda industri strategis
ini, mulai dari masalah keuangan hingga tidak adanya apresiasi beberapa
kalangan terhadap alutsista buatan industri pertahanan dalam negeri. Sikap
alergi beberapa kalangan terhadap pemakaian alutsista buatan bangsa sendiri
seakan menambah batu sandungan kelangsungan hidup industri pertahanan dalam
negeri.
Ditengah
persoalan yang membelit, industri pertahanan sebagai salah satu pusat
penguasaan teknologi pertahanan mengalami kemandekan. Penelitian dan
pengembangan teknologi pertahanan seakan terputus. Jangankan untuk menciptakan
alutsista anyar, untuk tetap survive
pun industri ini sudah kewalahan. Ibarat manusia, hidup segan mati tak mau.
Disisi
lain, nasib TNI juga tak kalah mirisnya. Gara-gara pelanggaran HAM di Timor
Timur membuat AS langsung tancap gas menjatuhkan embargo militer kepada TNI.
Imbasnya tentu saja kesiapan armada tempurnya anjlok. Fakta itu makin
diperparah dengan naiknya nilai tukar dollar AS terhadap rupiah yang kemudian
membuat daya beli alutsista TNI menurun.
Bangkit
Beragam cerita pahit dimasa lalu kemudian menjadi pijakan pemerintah untuk
menata kembali industri pertahanan nasional. Bisa dikatakan pemerintah kita
sudah kapok dengan tingginya
ketergantungan alutsista asing. Langkah ini juga seolah
menjadi kilas balik niat tulus pemerintah untuk tak mengulang kesalahan yang
sama dimasa lalu. Satu tujuan besar dan amat penting kemudian ditetapkan. Tujuan itu apalagi
jika bukan untuk menuju kemandirian pembuatan alutsista yang mampu mendukung
kebutuhan alutsista TNI.
Upaya bangkit
itu mulai terlihat dalam beberapa tahun ini. Pemerintah mulai serius membangun
industri pertahanan dalam negeri. Banyak cara dilakukan untuk membuat industri
ini mekar kembali, mulai dari kerjasama produksi (joint production), lisensi, hingga membuat alutsista dengan kemampuan
sendiri.
Buah
dari hasil kerja keras ini bisa dilihat dari kondisi industri pertahanan yang mulai mengalami kemajuan berarti. Hal ini bisa
ditengok dari makin menjamurnya produk alutsista buatan industri pertahanan dalam
negeri. Alutsista yang muncul tak hanya terbatas pada alutsista matra udara,
tetapi juga di ikuti dengan kemunculan alutsista matra darat dan laut yang juga
tak kalah seru meramaikan kebangkitan alutsista buatan dalam negeri.
Di matra
udara kita bisa melihat kebangkitan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang
sedikit demi sedikit mulai mengepakkan sayapnya untuk terbang lebih tinggi. Beberapa produk anyar yang sedang
digarap diantaranya pesawat tempur KF-X/IF-X dan pesawat perintis N-219. Khusus
untuk proyek pesawat tempur KF-X/IF-X merupakan pertama kali ditangani oleh
industri pesawat terbang plat merah tersebut. Jika terwujud sekaligus mampu
menaikkan kelas PT DI menjadi salah satu produsen pesawat tempur dunia.
Tak ketinggalan pula di matra laut
melalui PT PAL kita mampu membangun LPD yang merupakan hasil kerjasama
pertahanan dengan Korea Selatan. Kerjasama ini semakin erat dengan alih
teknologi pembuatan kapal selam Changbogo yang akan dilakukan dengan model
silang lokasi. Dari tiga kapal selam yang dibeli, dua dibuat di Korsel dan satu
akan dibuat di Indonesia.
Dimatra darat, PT Pindad juga tak
kalah gesit dengan menunjukkan bukti bahwa akumulasi pengetahuan yang
didapatnya selama ini mampu diwujudkan menjadi suatu arsenal tempur mumpuni.
Jika awalnya hanya mampu membuat senapan dan mortir, sedikit demi sedikit
kemampuan PT Pindad mulai meningkat. Setelah
sebelumnya berhasil membuat panser Anoa, kini
pabrikan senjata asal bandung ini sudah melangkah ke arah pembuatan tank.
Diluar PT DI,
PT PAL dan PT PINDAD masih ada banyak industri pertahanan di Indonesia yang
juga ikut mendukung pembangunan alutsista di Indonesia. Ada PT Palindo dengan
produk kapal cepat rudal, ada PT Lundin dengan kapal Trimaran, ada PT
Infoglobal dengan produk avioniknya, ada PT Sari Bahari dengan produk bom latih
pesawat tempur dan masih banyak lagi.
Semua contoh
diatas menjadi bukti bahwa industri pertahanan Indonesia mulai bangkit dan bahu-membahu membangun alutsista.
Ditengah keterbatasan anggaran TNI, pabrikan alutsista Indonesia ini tak duduk diam dan menanti
pesanan datang. Tapi terus
berkarya menciptakan berbagai alutsista untuk memberikan bukti nyata bahwa bangsa ini mampu menciptakan alutsista made in Indonesia dengan kualitas dunia.
Yudi Supriyono, 25 Januari 2012


3 komentar:
tetap maju TNI...
Jayalah Indonesia ku....
INDONESIA tidak dapat lagi di katakan sebagai negara berkembang, karena salah satu kriteria negara maju adalah negara tersebut telah berkiblat kepada militer dalam negerinya sendiri, dan sekarang indonesia sedikit demi sedikit kebutuhan akan alusistanya sudah mulai di penuhi oleh industri militer dalam negeri
saya bangga dengan kemampuan putra putri bangsa untuk memproduksi alusista. Tapi saya melihat ada kendala dalam pengembangan industri yaitu masalah energi.Saya kira rakyat indonesia harus menyadari, sudah saatnya kita mengembangkan enenergi tenaga nuklir.
Selain itu, dalam publikasi ini saya tidak melihat peran Pak Habibi dan putranya yang punya pemikiran2 yg brilian.Masalah lain, dibidang dana kita kembangkan simpanan sukarela manyarakat untuk pengembangan alusista.Secara teknis bisa kita diskusikan sehingga bisa dikelola se3cara profesional. Merdeka.arif nazaruddin. 081339760794 anazaruddin@bi.go.id
Poskan Komentar