Pages

25 Januari 2012

Kebangkitan Industri Pertahanan Indonesia

Prototype tank ringan buatan Pindad (Foto:  Audrey)
Pembelian alutsista dari negara lain sebenarnya merupakan hal yang biasa dan bukan hal aneh. Hal seperti ini sudah lumrah dilakukan di banyak negara. Tak hanya negara-negara dengan label miskin dan berkembang tetapi juga dilakukan negara-negara maju.

Pembelian alutsista oleh suatu negara biasanya didasari faktor ketiadaan industri pertahanan lokal sehingga pembelian alutsista asing mau tak mau harus dilakukan. Sedangkan bagi negara yang telah memiliki industri pertahanan biasanya terjadi karena alutsista yang di inginkan belum mampu diproduksi sendiri atau sudah mampu diproduksi tetapi masih terbatas pada kualitas yang bisa dikatakan belum memiliki kecanggihan tinggi.

Dari banyak segi, sebenarnya pembelian alutsista asing bukannya tanpa keuntungan. Dari segi kualitas, alutsista impor jelas sudah terjamin (terutama alutsista dari negara yang selama ini dikenal sebagai produsen alutsista global, seperti AS, Prancis, dan Rusia), alutsista impor juga membuat suatu negara mampu mengakses alutsista berteknologi tinggi sehingga tidak ketinggalan dengan negara lain. Selain itu yang tak kalah penting bagi negara dengan anggaran minim, impor alutsista memberikan keuntungan karena adanya iming-iming kemudahan pembayaran.

Tapi toh pembeliannya juga membawa beberapa kerugian. Dari sisi ekonomi, pembelian alutsista asing dalam kuantitas banyak akan mendorong pemborosan devisa negara sehingga bisa menyebabkan defisit neraca pembayaran dengan negara penjual. Impor alutsista juga membuat negara pembeli dalam posisi tidak aman, karena bakal rentan terkena ancaman embargo jika negara pembeli tidak memiliki hubungan politik yang baik dengan negara penjual atau menggunakan alutsista secara tidak benar seperti pelanggaran HAM. Dalam hal ini negara-negara seperti Indonesia, Iran dan Venezuela bisa menjadi contohnya.

Mati Suri

Bagi Indonesia, pembelian pesawat tempur Sukhoi beberapa waktu lalu bisa menjadi salah satu bukti bahwa impor alutsista juga menghampiri negeri ini. Langkah impor ini bisa kita kembalikan kepada posisi Indonesia. Jika boleh jujur, sebenarnya selama ini Indonesia memang belum menguasai sebagian besar teknologi pembuatan alutsista teknologi tinggi. Sehingga untuk menutupi “kekosongan”, pengadaan alutsista dari negara lain menjadi salah satu pilihan.

Hal ini suka tidak suka memang harus diakui karena fakta di lapangan berbicara. Alutsista asing bisa ditengok dari daftar belanja peralatan militer sejak era Orde Baru hingga sekarang mulai dari pesawat tempur (Su-27/Su-30), kapal perang (SIGMA), kapal selam (Changbogo), tank (Scorpion, BMP-3F) hingga radar pertahanan udara (Thomson). Peralatan militer itu entah sedikit entah banyak merupakan alutsista buatan dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Inggris, dan Jerman.

Sebagai gambaran jika pembelian alutsista yang dilakukan Indonesia diakumulasikan nilainya, bisa dibayangkan berapa devisa yang dikeluarkan oleh bangsa ini untuk membelinya? Yang jelas jumlah itu tidaklah sedikit, dan tak akan murah layaknya hanphone China yang memenuhi pasar handphone di Indonesia.  Dari sini kemudian kita dikejar dengan pertanyaan: dimana industri pertahanan Indonesia?

Sedikit menengok ke masa Orde Baru, industri pertahanan Indonesia pernah mengalami kemajuan yang luar biasa. Industri ini pernah menjadi “anak emas” terutama sejak B.J Habibie menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi. Sebagai contoh pembuatan roket FFAR (Folding Fin Aerial Rocket), SUT Torpedo, dan komponen jet tempur F-16 oleh PT DI, kemudian pembuatan senapan serbu SS-1 oleh PINDAD, serta pembuatan kapal patroli cepat FPB-57 oleh PT PAL.

Namun, sejak krisis moneter melanda negeri ini, industri pertahanan kita mengalami “mati suri”. Beragam persoalan melanda industri strategis ini, mulai dari masalah keuangan hingga tidak adanya apresiasi beberapa kalangan terhadap alutsista buatan industri pertahanan dalam negeri. Sikap alergi beberapa kalangan terhadap pemakaian alutsista buatan bangsa sendiri seakan menambah batu sandungan kelangsungan hidup industri pertahanan dalam negeri.

Ditengah persoalan yang membelit, industri pertahanan sebagai salah satu pusat penguasaan teknologi pertahanan mengalami kemandekan. Penelitian dan pengembangan teknologi pertahanan seakan terputus. Jangankan untuk menciptakan alutsista anyar, untuk tetap survive pun industri ini sudah kewalahan. Ibarat manusia, hidup segan mati tak mau.

Disisi lain, nasib TNI juga tak kalah mirisnya. Gara-gara pelanggaran HAM di Timor Timur membuat AS langsung tancap gas menjatuhkan embargo militer kepada TNI. Imbasnya tentu saja kesiapan armada tempurnya anjlok. Fakta itu makin diperparah dengan naiknya nilai tukar dollar AS terhadap rupiah yang kemudian membuat daya beli alutsista TNI menurun.

Bangkit

Beragam cerita pahit dimasa lalu kemudian menjadi pijakan pemerintah untuk menata kembali industri pertahanan nasional. Bisa dikatakan pemerintah kita sudah kapok dengan tingginya ketergantungan alutsista asing. Langkah ini juga seolah menjadi kilas balik niat tulus pemerintah untuk tak mengulang kesalahan yang sama dimasa lalu. Satu tujuan besar dan amat penting kemudian ditetapkan. Tujuan itu apalagi jika bukan untuk menuju kemandirian pembuatan alutsista yang mampu mendukung kebutuhan alutsista TNI.

Upaya bangkit itu mulai terlihat dalam beberapa tahun ini. Pemerintah mulai serius membangun industri pertahanan dalam negeri. Banyak cara dilakukan untuk membuat industri ini mekar kembali, mulai dari kerjasama produksi (joint production), lisensi, hingga membuat alutsista dengan kemampuan sendiri.

Buah dari hasil kerja keras ini bisa dilihat dari kondisi industri pertahanan yang mulai mengalami kemajuan berarti. Hal ini bisa ditengok dari makin menjamurnya produk alutsista buatan industri pertahanan dalam negeri. Alutsista yang muncul tak hanya terbatas pada alutsista matra udara, tetapi juga di ikuti dengan kemunculan alutsista matra darat dan laut yang juga tak kalah seru meramaikan kebangkitan alutsista buatan dalam negeri.

Di matra udara kita bisa melihat kebangkitan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang sedikit demi sedikit mulai mengepakkan sayapnya untuk terbang lebih tinggi. Beberapa produk anyar yang sedang digarap diantaranya pesawat tempur KF-X/IF-X dan pesawat perintis N-219. Khusus untuk proyek pesawat tempur KF-X/IF-X merupakan pertama kali ditangani oleh industri pesawat terbang plat merah tersebut. Jika terwujud sekaligus mampu menaikkan kelas PT DI menjadi salah satu produsen pesawat tempur dunia.

Tak ketinggalan pula di matra laut melalui PT PAL kita mampu membangun LPD yang merupakan hasil kerjasama pertahanan dengan Korea Selatan. Kerjasama ini semakin erat dengan alih teknologi pembuatan kapal selam Changbogo yang akan dilakukan dengan model silang lokasi. Dari tiga kapal selam yang dibeli, dua dibuat di Korsel dan satu akan dibuat di Indonesia.

Dimatra darat, PT Pindad juga tak kalah gesit dengan menunjukkan bukti bahwa akumulasi pengetahuan yang didapatnya selama ini mampu diwujudkan menjadi suatu arsenal tempur mumpuni. Jika awalnya hanya mampu membuat senapan dan mortir, sedikit demi sedikit kemampuan PT Pindad mulai meningkat. Setelah sebelumnya berhasil membuat panser Anoa, kini pabrikan senjata asal bandung ini sudah melangkah ke arah pembuatan tank.

Diluar PT DI, PT PAL dan PT PINDAD masih ada banyak industri pertahanan di Indonesia yang juga ikut mendukung pembangunan alutsista di Indonesia. Ada PT Palindo dengan produk kapal cepat rudal, ada PT Lundin dengan kapal Trimaran, ada PT Infoglobal dengan produk avioniknya, ada PT Sari Bahari dengan produk bom latih pesawat tempur dan masih banyak lagi.

Semua contoh diatas menjadi bukti bahwa industri pertahanan Indonesia mulai bangkit dan bahu-membahu membangun alutsista. Ditengah keterbatasan anggaran TNI, pabrikan alutsista Indonesia ini tak duduk diam dan menanti pesanan datang. Tapi terus berkarya menciptakan berbagai alutsista untuk memberikan bukti nyata bahwa bangsa ini mampu menciptakan alutsista made in Indonesia dengan kualitas dunia.

Yudi Supriyono, 25 Januari 2012

3 komentar:

exocet mengatakan...

tetap maju TNI...
Jayalah Indonesia ku....

roy mengatakan...

INDONESIA tidak dapat lagi di katakan sebagai negara berkembang, karena salah satu kriteria negara maju adalah negara tersebut telah berkiblat kepada militer dalam negerinya sendiri, dan sekarang indonesia sedikit demi sedikit kebutuhan akan alusistanya sudah mulai di penuhi oleh industri militer dalam negeri

Anonim mengatakan...

saya bangga dengan kemampuan putra putri bangsa untuk memproduksi alusista. Tapi saya melihat ada kendala dalam pengembangan industri yaitu masalah energi.Saya kira rakyat indonesia harus menyadari, sudah saatnya kita mengembangkan enenergi tenaga nuklir.
Selain itu, dalam publikasi ini saya tidak melihat peran Pak Habibi dan putranya yang punya pemikiran2 yg brilian.Masalah lain, dibidang dana kita kembangkan simpanan sukarela manyarakat untuk pengembangan alusista.Secara teknis bisa kita diskusikan sehingga bisa dikelola se3cara profesional. Merdeka.arif nazaruddin. 081339760794 anazaruddin@bi.go.id

Poskan Komentar