Pages

3 Januari 2012

Leopard, Tank Canggih Pilihan TNI

Tank Leopard 2A6 buatan Jerman (foto: Krauss-Maffei Wegmann)
Beberapa waktu lalu, rencana TNI Angkatan Darat (TNI AD) untuk membeli tank Leopard bekas sempat mengundang reaksi Komisi I DPR. Tak tanggung-tanggung, Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanudin menilai tank tersebut tidak sesuai dengan kondisi wilayah Indonesia karena kondisi jalanan di Indonesia yang memiliki daya tahan rendah.

Seperti diketahui, selama tiga tahun ke depan, TNI Angkatan Darat akan mendapatkan anggaran pembelian senjata sebesar Rp 14 triliun. Rencananya sebagian uang itu akan digunakan untuk membeli alutsista buatan Eropa.

Kondisi perekonomian Eropa yang sedang merosot menjadi pertimbangan tersendiri untuk mendapatkan alutsista dengan harga murah. TNI AD menjajaki pembelian alutsista dari negara-negara Eropa seperti Jerman, Italia, Spanyol, Belanda dan Perancis. Dari Belanda, salah satu alutsista yang akan dibeli adalah tank Leopard 2A6 bekas Angkatan Daratnya.

Bila melihat lembar sejarahnya, terakhir kali pembelian tank dilakukan oleh TNI AD di era Orde Baru melalui pembelian sekitar 100 tank Scorpion buatan Alvis, Inggris. Ini berarti sudah sekitar 20 tahun ini TNI AD tidak melakukan pembelian senjata untuk mengganti tank tempurnya yang sudah menua. Selain Scorpion, beberapa persenjataan tua yang masih digunakan antara lain tank AMX-13 buatan tahun 1958. 
Beginilah aksi Leopard di air (foto: 1zoom.net)




Fakta ini bisa menjadi contoh ketertingggalan angkatan bersenjata kita bila dibandingkan dengan negara-negara dikawasan Asia tenggara. Tak usah jauh-jauh, ambil contoh Malaysia. Negeri Jiran ini sudah lama mengoperasikan puluhan Main Battle Tank jenis PT-91 buatan Polandia.

Dengan alutsista tua plus ketinggalan zaman, TNI AD jelas mengalami kesulitan untuk bisa sejajar dengan angkatan bersenjata negara lain. Lebih dari itu, pengoperasian alutsista tua memiliki banyak kerugian. Dari sisi biaya, jelas tidak ekonomis lagi karena tingginya biaya pengoperasiannya. Juga tingginya biaya pemeliharaan untuk membuatnya tetap bisa “hidup” lebih lama.

Dan yang tak kalah penting adalah faktor keselamatan perajurit yang menggunakannya. Alangkah ironis jika perajurit yang maju di medan laga harus mengalami nasib naas gara-gara alutsista tua yang bikin celaka. Seabreg alasan inilah yang kemudian semakin mempertegas arti pentingnya pembaruan alutsista bagi angkatan bersenjata kita.

Canggih

Dari beragam alutsista yang ada, Main Battle Tank (MBT) atau tank tempur utama bisa dibilang merupakan salah satu unsur penting dalam angkatan bersenjata suatu negara. Fungsinya bisa semakin vital dalam “mengoyak” kekuatan pertahanan darat musuh.

Menilik Leopard 2A6, tank ini merupakan tank tempur utama buatan Krauss-Maffei Wegmann, Jerman. Selama ini Jerman memang dikenal memiliki banyak jurus dalam menggarap alutsista yang dikenal canggih dan mumpuni. Leopard bisa menjadi bukti nyatanya. Tank ini masuk kategori laris dipasaran tank dunia, di luar Jerman dan Belanda, tercatat beberapa negara telah menggunakannya seperti Yunani, Spanyol, Kanada, dan Portugal.

                                                                             army-guide.com
Leopard  diawaki oleh empat orang kru yang terdiri dari seorang komandan, pengemudi, juru tembak, dan seorang loader yang bertugas untuk urusan muatan. Leopard  memiliki beberapa kelebihan dalam hal daya gerak maupun daya tembaknya.

Dalam hal daya gerak, Leopard  mampu melakukan manuver dengan baik dan memiliki mobilitas tinggi meskipun berada di medan yang sangat sulit. Selain itu, tank dengan mesin diesel 12 silinder ini mampu dipacu hingga kecepatan 68 km/jam. Pemakaian mesin diesel juga dikenal lebih ekonomis karena dapat menghemat konsumsi bahan bakar.

Soal daya tembak, tank ini memiliki sistem kendali penembakan canggih yang mampu meningkatkan akurasi tembakan. Dengan sistem penembakan ini, Leopard memiliki tingkat akurasi tinggi sehingga bisa menghindari melesetnya tembakan yang dilancarkan ke arah musuh. Tank ini dilengkapi dengan meriam kaliber 120 mm yang mampu menghancurkan target darat milik musuh. Diluar itu, tank ini juga masih dilengkapi dengan senapan mesin kaliber 7,62 mm.

                                                                            army-guide.com
Kelebihan lainnya adalah pemasangan perangkat lihat malam pada tank yang tentunya mampu mendongkrak kemampuan tempurnya. Maklum, dalam kegelapan malam penglihatan pengemudi dan juru tembak tank jadi terbatas. Maka tak salah jika pemasangan perangkat ini membuat Leopard memiliki penglihatan ekstra sehingga mampu melakukan pertempuran pada malam hari.

Yang tak kalah hebat adalah pemakaian perangkat laser rangefinder yang berguna untuk menentukan jarak antara target dengan tank. Kemudian penggunaan thermal imaging sight yang mampu melihat variasi suhu yang memudahkan untuk melihat perajurit dan kendaraan tempur musuh yang sedang beraksi dimedan tempur. Hal ini bisa terjadi karena memanfaatkan perbedaan suhu perajurit dan kendaraan tempur musuh terhadap lingkungan sekitar.

Nah, memang hal yang lumrah jika kemudian kelebihan dan kecanggihan teknologi ini menjadi salah satu pertimbangan TNI untuk memilih Leopard sebagai MBT-nya. Terlepas dari jadi tidaknya tank itu dibeli. Sebenarnya pembelian tank tersebut merupakan bagian dari upaya TNI AD untuk memodernisasi alutsistanya. Bisa dikatakan pembelian alutsista itu dapat mempercepat tercapainya kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF) yang selama ini menjadi kebijakan TNI. (Yudi Supriyono)

3 komentar:

Military Zone mengatakan...

Nice artikel bro..bro klo boleh kt tukeran link ini ane http://xzone-military.blogspot.com/.Trim's

Aviasista mengatakan...

Terima Kasih.
oke setuju bro. ane langsung ke TKP.

Anonim mengatakan...

DEWAN PIMP.RANTING PARTAI AMANAT NASIONAL PONDOK KARYA PONDOK AREN TANGSEL BANTEN TIDAK KEBERATAN TNI BELI MBT LEOPARD2 A.6 DARI BELANDA,HIMARS DARI AMERIKA.ASALKAN...1.TIDAK DI-EMBARGO ADA JAMINAN SELAMA 30 TAHUN,BILA MELANGGAR DI KENAKAN SANGSI UANG TUNAI.2.TIDAK IKUT CAMPUR URUSAN KEAMANAN DALAM NEGERI.3.TNI SEBAGAI PEMBELI TIDAK DIKAITKAN ANTARA MASALAH KEAMANAN DALAM NEGERI-URUSAN HAK ASASI MANUSIA...BUKANKAH BELANDA MENJAJAH TANAH AIR KITA 350 TAHUN TANPA KOMPENSASINYA KERAKYAT KITA SENDIRI?.

Poskan Komentar