Pages

27 Februari 2012

KRI Nanggala: Monster Bawah Laut Penjaga Perairan Indonesia

KRI Nanggala (foto: kaskus.us)
Seperti santer diberitakan media cetak maupun elektronik, tanggal 6 Februari lalu kapal selam KRI Nanggala kembali ke Tanah Air setelah menjalani program overhaul (perbaikan menyeluruh) di Korea Selatan. Kembalinya KRI Nanggala tentunya bakal mengembalikan kekuatan pemukul bawah laut TNI AL. Betapa tidak? Sejak Desember 2009 silam atau selama hampir dua tahun berada di Korsel, praktis kekuatan bawah laut Indonesia hanya bertumpu pada sang “kakak” KRI Cakra.

Seperti kita tahu, kapal selam yang menjadi kekuatan tempur TNI AL saat ini, tentunya tak jauh dari nama KRI Cakra (401) dan KRI Nanggala (402). Pasalnya untuk urusan arsenal tempur bawah laut, kedua kapal selam buatan tahun 1981 ini memang sampai saat ini masih menjadi tulang punggung kekuatan kapal selam TNI AL. Alasannya tak lain karena “hanya” dua unit kapal selam itulah yang dimiliki TNI AL.

Sea trial KRI Nanggala (foto: arc.web.id)
Adapun kepergian KRI Nanggala bukannya tanpa sebab. Seperti kita tahu, kapal selam uzur ini menjalani overhaul yang merupakan langkah untuk mengembalikan performanya. Maklum dengan bertambahnya umur dan tingginya jam layar otomatis tingkat kesiapannya juga mengalami penurunan.

Apalagi seiring dengan perkembangan  zaman, banyak terjadi terobosan penciptaan teknologi baru dalam bidang kapal selam, mulai dari sistem navigasi, sistem persenjataan, sistem propulsi hingga peralatan sensor. Sehingga mau tak mau harus di ikuti dengan peningkatan kemampuan supaya teknologi yang diusung tak terkesan ketinggalan zaman. Terlebih untuk kawasan regional, sudah banyak negara yang mengoperasikan kapal selam baru dengan teknologi canggih.

KRI Nanggala menjalani overhaul di galangan kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering Co Ltd (DSME), Okpo, Korea Selatan. Terpilihnya DSME sendiri tak lepas dari kemenangkan kontrak overhaul yang diraih pada bulan April 2009, menariknya jagoan Negeri Ginseng ini mengalahkan sang “guru” yang juga pabrikan kapal selam asal Jerman, HDW (Howaldtswerke-Deutsche Werft).

KRI Nanggala saat menjalani overhaul
Dalam program “pembedahan” di Negeri Ginseng, DSME yang bertindak sebagai “dokter bedah” melakukan “operasi” besar-besaran. Beragam teknologi terkini dibenamkan kedalam tubuh KRI Nanggala sehingga sekarang kian sakti dan sudah berubah menjadi “baru” kembali. Overhaul yang dilakukan di Korsel meliputi perbaikan keempat mesin diesel dan penguatan struktur kapal, serta lapisan baja. Kemudian beberapa sistem/komponen pada kapal selam dicopot dan diganti dengan perangkat anyar, diantaranya untuk sistem navigasi, fire-control system, dan peralatan sensor (radar dan sonar).

Bagi DSME, kegiatan overhaul macam ini bukanlah kali pertama. Sebelumnya antara Mei 2004-Februari 2006, DSME juga telah meng-overhaul KRI Cakra dengan mengganti perangkat teknologinya dengan teknologi 1990-an. Overhaul yang dilakukan selama 22 bulan itu diantaranya meliputi perbaikan mesin diesel, sistem propulsi, fire-control system, sistem navigasi, sistem komunikasi, dan struktur/bangunan kapal, serta modernisasi combat system. Diluar itu, tak ketinggalan peralatan sensor dan baterai diganti dengan yang baru.

Perbaikan
Bila menengok kebelakang, overhaul untuk KRI Cakra dan Nanggala juga pernah dilakukan pada dasawarsa '80-an. Misalnya antara tahun 1986 sampai 1989, kedua kapal selam ini menjalani perbaikan di galangan kapal HDW, Kiel, Jerman. Tak tanggung-tanggung perjalanan jauh pulang-pergi antara Indonesia-Jerman ditempuh kapal selam kembar ini.

Salah satu kapal selam kelas Whiskey, RI Pasopati
Kemudian pada tahun 1993-1997, KRI Cakra kembali menjalani overhaul yang dititikberatkan pada pemasangan sistem sensor dan baterai baru, serta perbaikan sistem propulsi. Untuk perbaikan ini sudah sepenuhnya dilakukan di galangan kapal lokal, yakni di PT PAL Surabaya. Tak lama kemudian giliran KRI Nanggala menjalani perbaikan ditempat yang sama dari tahun 1997-1999.

Bila ditilik sejarahnya, pembelian dua kapal selam “kembar” ini sejak awal dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengganti armada kapal selam kelas Whiskey yang sudah uzur. Maklum, kapal selam buatan Uni Soviet ini telah dioperasikan sejak tahun 1959 dan kini dari 12 kapal selam yang dibeli, semuanya telah dipensiunkan.
Gambar struktur rangka kapal selam U-209
KRI Cakra dan Nanggala yang kala itu dibeli dalam kondisi gress termasuk kapal selam Type U-209/1300 buatan HDW, Jerman. Secara teknis, kapal selam mampu menyelam hingga kedalaman 200 meter ini memiliki bobot 1.395 ton dengan dimensi panjang 59,5 meter, lebar 6,3 meter, dan tinggi 5,5 meter serta diawaki 34 personel. Sementara sebagai sumber tenaganya mengandalkan mesin diesel elektrik berdaya dorong 4.600 shp (shaft horse power). Dengan mesin ini kapal selam mampu melesat didalam air pada kecepatan 21,5 knot.

Arti Nomor Lambung dan Nama Nanggala?
Untuk nomor lambung kapal perang TNI AL terdiri dari tiga angka. Untuk satuan kapal selam (Satsel), sebagai angka pertama nomor lambung memakai angka 4, kemudian nomor tengah dan terakhir menunjukkan urutan kapal. Lalu apa arti nama Nanggala? Seperti halnya nama-nama kapal selam kelas Whiskey yang dulu pernah dioperasikan Satuan Kapal Selam TNI AL, dimana penamaannya mengambil nama senjata para ksatria dalam cerita wayang.

Dalam hal ini, Nanggala juga mengikuti jejak para pendahulunya. Nama Nanggala dalam cerita wayang merupakan senjata milik Prabu Baladewa yang berwujud panah dimana kedua ujungnya tajam. Perlu kita tahu, pemakaian nama Nanggala bukanlah kali pertama diberikan kepada kapal selam TNI AL. Sebelumnya TNI AL pernah memiliki nama kapal selam dengan nama yang sama, yakni kapal selam kelas Whiskey, RI Nanggala (S-02). Jadi nama yang saat ini dipakai pada KRI Nanggala merupakan pengulangan dari nama kapal selam terdahulu.

CMS dan Sonar
CMS terbaru KRI Nanggala
Secara kasat mata, tampilan KRI Nanggala yang telah di overhaul tak beda dengan sebelumnya. Tapi jangan salah, sejak bergabung kembali ke dalam Satuan Kapal Selam Komando Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL sejumlah perubahan dialami kapal selam satu ini. Taruhlah untuk Combat Management System (CMS). Jika sebelumnya memakai SINBADS (signaal’s submarine integrated battle and data system) buatan Belanda. Kini CMS uzur itu sudah “dibuang kelaut” digantikan dengan CMS anyar MSI-90U Mk 2 lansiran Kongsberg Defense & Aerospace (KDA), Norwegia.

MSI-90U Mk2—yang dibeli DSME tahun 2010—merupakan CMS generasi terbaru hasil modifikasi dari CMS tipe MSI-90U. MSI-90U sendiri merupakan CMS yang dikembangkan oleh Kongsberg pada tahun 1980 disesuaikan dengan requirement Angkatan Laut Norwegia dan Jerman. Latar belakang pembuatannya tak lain untuk memenuhi kebutuhan CMS bagi armada kapal selam baru Ula-class U210 milik Angkatan Laut Norwegia dan Type U212 milik Angkatan Laut Jerman. Saat ini selain dua negara tersebut, CMS ini juga dipakai kapal selam Type U212 milik Angkatan Laut Italia.

SUT torpedo yang menjadi senjata andalan KRI Nanggala
MSI-90U Mk2 yang diperkenalkan pertama kali tahun 1998 ini terdiri dari dua Multi-Function Consoles MFC-2000M dan satu Torpedo Board Interface TBI 110A. Berbekal CMS MSI-90U Mk2, saat ini KRI Nanggala mampu menyiapkan dan mengendalikan 8 buah torpedo, dimana empat diantaranya mampu ditembakkan secara serentak dari delapan buah tabung peluncur torpedo yang terdapat dibagian ujung haluan utama kapal selam. Total torpedo yang mampu diusung berjumlah 14 buah dengan ukuran 21 inchi (533 mm). Tipe torpedo yang bisa dibawa diantaranya Black Shark dan SUT (surface and underwater torpedo) Mod 3.

Selain CMS, pembenahan lain bisa ditemui pada perangkat sonarnya. Untuk item satu ini, DSME mencomot sonar pasif LOPAS 8300 racikan L-3 ELAC Nautik, Jerman. Sonar ini menggantikan sonar lama tipe CSU (Compact Sonar for U-Boat) 3-2 buatan  Atlas Elektronik. Salah satu kelebihan sonar anyar ini adalah kemampuan jangkauan deteksinya yang lebih jauh dibanding CSU 3-2. Diluar perubahan itu, KRI Nanggala juga mengalami perubahan dalam hal kecepatan didalam air. Bila dulu kecepatan menyelam hanya mentok pada angka 21,5 knot, kini kapal selam ini mampu dipacu hingga kecepatan 25 knot.

Dengan segala kelebihan yang kini dimiliki, terutama setelah mengalami perbaikan melalui overhaul, tentunya membuat KRI Nanggala semakin mumpuni dalam menjaga dan mengawasi perairan Indonesia. Dengan begitu, harapan kedepannya monster bawah laut penjaga perairan Indonesia ini akan mampu beroperasi secara optimal dalam menghalau kekuatan asing yang mengancam kedaulatan Indonesia. (Yudi Supriyono)

Spesifikasi KRI Nanggala
Pabrikan: HDW (Howaldtswerke-Deutsche Werft), Jerman
Panjang: 59,5 meter
Lebar: 6,3 meter
Draft: 5,5 meter
Bobot: 1.395 ton
Kecepatan menyelam: 25 knot
Awak: 34 personel
Mesin: Diesel-elektrik, yang terdiri dari 4 mesin diesel MTU, 1 motor listrik Siemens
Endurance: 50 hari
Combat System: MSI-90U Mk2
Sonar: LOPAS 8300
Persenjataan: 14 torpedo ukuran 21 inchi (533 mm)

*) Tulisan ini sudah dimuat Harian Suara Merdeka tanggal 27/02/2012

0 komentar:

Poskan Komentar