| KRI Nanggala (foto: kaskus.us) |
Seperti kita tahu, kapal selam yang menjadi kekuatan tempur TNI AL saat
ini, tentunya tak jauh dari nama KRI Cakra
(401) dan KRI Nanggala (402). Pasalnya untuk urusan arsenal tempur bawah laut,
kedua kapal selam buatan tahun 1981 ini memang
sampai saat ini masih menjadi tulang punggung kekuatan kapal selam TNI AL. Alasannya tak lain karena “hanya” dua unit kapal
selam itulah yang dimiliki TNI AL.
Adapun kepergian KRI Nanggala bukannya tanpa sebab. Seperti kita tahu, kapal
selam uzur ini menjalani overhaul yang merupakan
langkah untuk mengembalikan performanya. Maklum dengan bertambahnya umur dan
tingginya jam layar otomatis tingkat kesiapannya juga mengalami penurunan.
Apalagi seiring dengan perkembangan zaman, banyak terjadi terobosan penciptaan teknologi baru dalam bidang kapal selam, mulai dari sistem navigasi,
sistem persenjataan, sistem propulsi hingga peralatan sensor. Sehingga mau tak mau harus di ikuti dengan peningkatan kemampuan supaya
teknologi yang diusung tak terkesan ketinggalan zaman. Terlebih untuk kawasan
regional, sudah banyak negara yang mengoperasikan kapal selam baru dengan
teknologi canggih.
KRI Nanggala menjalani overhaul di galangan
kapal Daewoo
Shipbuilding and Marine Engineering Co Ltd (DSME), Okpo, Korea
Selatan. Terpilihnya DSME sendiri tak lepas dari kemenangkan kontrak overhaul yang
diraih pada bulan April 2009, menariknya jagoan Negeri Ginseng ini mengalahkan
sang “guru” yang juga pabrikan kapal selam asal Jerman, HDW (Howaldtswerke-Deutsche Werft).
Dalam program
“pembedahan” di Negeri Ginseng, DSME yang bertindak sebagai “dokter bedah” melakukan
“operasi” besar-besaran. Beragam teknologi terkini dibenamkan kedalam tubuh KRI
Nanggala sehingga sekarang kian sakti dan sudah berubah menjadi “baru” kembali.
Overhaul yang dilakukan di Korsel
meliputi perbaikan keempat mesin diesel dan penguatan struktur kapal, serta
lapisan baja. Kemudian beberapa sistem/komponen pada kapal selam dicopot dan
diganti dengan perangkat anyar, diantaranya untuk sistem navigasi, fire-control system, dan peralatan
sensor (radar dan sonar).
Bagi DSME, kegiatan
overhaul macam ini bukanlah kali
pertama. Sebelumnya antara Mei 2004-Februari 2006, DSME juga telah meng-overhaul KRI Cakra
dengan mengganti perangkat teknologinya dengan teknologi
1990-an. Overhaul
yang dilakukan selama 22 bulan itu diantaranya meliputi perbaikan mesin diesel,
sistem propulsi, fire-control system, sistem navigasi, sistem komunikasi, dan struktur/bangunan
kapal, serta modernisasi combat system.
Diluar itu, tak ketinggalan peralatan sensor dan baterai diganti dengan yang
baru.
Perbaikan
Bila menengok
kebelakang, overhaul untuk KRI Cakra dan Nanggala juga pernah dilakukan pada
dasawarsa '80-an. Misalnya antara tahun 1986 sampai 1989, kedua kapal selam ini
menjalani perbaikan di galangan kapal HDW, Kiel, Jerman. Tak
tanggung-tanggung perjalanan jauh pulang-pergi antara Indonesia-Jerman ditempuh
kapal selam kembar ini.
![]() |
| Salah satu kapal selam kelas Whiskey, RI Pasopati |
Bila ditilik sejarahnya, pembelian dua kapal selam
“kembar” ini sejak awal dilakukan pemerintah
Indonesia untuk mengganti armada kapal selam kelas Whiskey yang sudah uzur. Maklum, kapal selam
buatan Uni Soviet ini telah dioperasikan sejak tahun 1959 dan kini dari 12
kapal selam yang dibeli, semuanya telah dipensiunkan.
KRI Cakra dan Nanggala yang kala itu dibeli dalam kondisi gress termasuk kapal selam Type
U-209/1300 buatan HDW, Jerman. Secara teknis, kapal selam mampu menyelam hingga
kedalaman 200 meter ini memiliki bobot 1.395 ton dengan dimensi panjang 59,5 meter, lebar 6,3
meter, dan tinggi 5,5 meter serta diawaki 34 personel. Sementara sebagai sumber
tenaganya mengandalkan mesin diesel elektrik berdaya dorong 4.600 shp (shaft
horse power). Dengan mesin ini kapal selam mampu
melesat didalam air pada kecepatan 21,5 knot.
Arti Nomor Lambung dan Nama Nanggala?
Untuk nomor
lambung kapal perang TNI AL terdiri dari tiga angka. Untuk satuan kapal selam
(Satsel), sebagai angka pertama nomor lambung memakai angka 4, kemudian nomor
tengah dan terakhir menunjukkan urutan kapal. Lalu apa arti nama Nanggala? Seperti
halnya nama-nama kapal selam kelas Whiskey yang dulu pernah dioperasikan Satuan Kapal Selam TNI
AL, dimana penamaannya mengambil nama senjata para ksatria dalam cerita
wayang.
Dalam hal
ini, Nanggala juga mengikuti jejak para pendahulunya. Nama Nanggala dalam
cerita wayang merupakan senjata milik Prabu Baladewa yang berwujud panah dimana kedua ujungnya
tajam. Perlu kita tahu, pemakaian nama Nanggala bukanlah kali pertama diberikan
kepada kapal selam TNI AL. Sebelumnya TNI AL pernah memiliki nama kapal selam
dengan nama yang sama, yakni kapal selam kelas Whiskey, RI Nanggala (S-02). Jadi nama yang saat ini dipakai pada KRI
Nanggala merupakan pengulangan dari nama kapal selam terdahulu.
Secara kasat mata,
tampilan KRI Nanggala yang telah di overhaul tak beda dengan sebelumnya. Tapi
jangan salah, sejak bergabung kembali ke dalam Satuan Kapal Selam Komando
Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL sejumlah perubahan dialami kapal selam
satu ini. Taruhlah untuk Combat
Management System (CMS). Jika sebelumnya memakai SINBADS (signaal’s
submarine integrated battle and data system) buatan Belanda. Kini CMS uzur itu
sudah “dibuang kelaut” digantikan dengan CMS anyar MSI-90U
Mk 2 lansiran Kongsberg Defense & Aerospace (KDA), Norwegia.
MSI-90U
Mk2—yang dibeli DSME
tahun 2010—merupakan CMS generasi terbaru hasil modifikasi dari CMS tipe MSI-90U. MSI-90U sendiri
merupakan CMS yang dikembangkan oleh Kongsberg pada tahun 1980
disesuaikan dengan requirement Angkatan Laut Norwegia dan Jerman.
Latar belakang pembuatannya tak lain untuk memenuhi kebutuhan CMS bagi
armada kapal selam baru Ula-class U210 milik Angkatan Laut Norwegia dan Type
U212 milik Angkatan Laut Jerman. Saat ini selain dua negara tersebut, CMS ini
juga dipakai kapal selam Type U212 milik Angkatan Laut Italia.
MSI-90U
Mk2 yang
diperkenalkan pertama kali tahun 1998 ini terdiri dari dua Multi-Function
Consoles MFC-2000M dan satu Torpedo Board Interface TBI 110A. Berbekal CMS MSI-90U Mk2, saat ini
KRI Nanggala mampu menyiapkan dan mengendalikan
8 buah torpedo, dimana empat diantaranya mampu ditembakkan secara serentak dari delapan buah
tabung peluncur torpedo yang terdapat dibagian ujung haluan utama kapal
selam. Total torpedo yang mampu diusung berjumlah 14 buah dengan ukuran 21 inchi
(533 mm). Tipe torpedo yang bisa dibawa diantaranya Black Shark dan SUT (surface
and underwater torpedo) Mod 3.
Selain CMS,
pembenahan lain bisa ditemui pada perangkat sonarnya. Untuk item satu ini, DSME mencomot sonar pasif
LOPAS 8300 racikan L-3 ELAC Nautik, Jerman. Sonar ini
menggantikan sonar lama tipe CSU (Compact Sonar for U-Boat) 3-2 buatan Atlas Elektronik. Salah satu kelebihan
sonar anyar ini adalah kemampuan jangkauan deteksinya yang lebih jauh dibanding
CSU 3-2. Diluar perubahan itu, KRI Nanggala juga mengalami perubahan dalam hal
kecepatan didalam air. Bila dulu kecepatan menyelam hanya mentok pada angka
21,5 knot, kini kapal selam ini mampu dipacu hingga kecepatan 25 knot.
Dengan segala
kelebihan yang kini dimiliki, terutama setelah mengalami perbaikan melalui
overhaul, tentunya membuat KRI Nanggala semakin mumpuni dalam menjaga dan
mengawasi perairan Indonesia. Dengan begitu, harapan kedepannya monster bawah laut penjaga perairan Indonesia ini akan mampu beroperasi
secara optimal dalam menghalau kekuatan asing yang mengancam kedaulatan Indonesia. (Yudi Supriyono)
Spesifikasi KRI Nanggala
Pabrikan: HDW (Howaldtswerke-Deutsche Werft), Jerman
Panjang: 59,5 meter
Lebar: 6,3 meter
Draft: 5,5 meter
Bobot: 1.395 ton
Kecepatan menyelam:
25 knot
Awak: 34 personel
Mesin: Diesel-elektrik, yang terdiri dari 4 mesin diesel MTU, 1 motor
listrik Siemens
Endurance: 50 hari
Combat System: MSI-90U Mk2
Sonar: LOPAS 8300
Persenjataan: 14
torpedo ukuran 21 inchi (533 mm)
*)
Tulisan ini sudah dimuat Harian Suara Merdeka tanggal 27/02/2012






0 komentar:
Poskan Komentar