Pages

8 Februari 2012

Mengukur Kemampuan Industri Pertahanan Malaysia (1)

Pengalaman konflik perbatasan dan meningkatnya postur kekuatan militer beberapa negara tetangga menjadi catatan tersendiri bagi Malaysia. Seolah tak ingin melengkapi angkatan bersenjatanya dengan terus mengedepankan impor alutsista dari negara lain, Negeri Jiran pun mulai menyusun langkah membangun industri pertahanan dalam negeri.

Sama halnya “nasib” yang dialami oleh sebagian besar negara-negara Asia tenggara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap alutsista impor. Dalam daftar alutsista Malaysia ada berbagai macam mesin perang yang dibeli dari banyak negara, mulai dari matra darat ada tank PT-91, matra laut ada kapal selam Scorpene dan matra udara ada F-18 Hornet, MiG-29 Fulcrum, Su-30MKM, hingga pesawat lawas F-5 Tiger.

F-5 tiger Malaysia (foto: en.wikipedia.org)
Dominasi alutsista asing yang banyak mengisi jajaran mesin perangnya mengetuk hati Negeri Jiran untuk membangun industri pertahanan di dalam negeri. Apalagi jika dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Singapura dan Indonesia, bisa dikatakan Malaysia termasuk tertinggal.

Singapura—yang notabene memiliki luas wilayah yang jauh lebih kecil, sudah terlebih dahulu memiliki industri pertahanan sendiri dan sudah cukup mandiri dengan kehadiran Singapore Technology Engineering (ST Engineering). Demikian juga jika dibandingkan dengan Indonesia. Lagi-lagi Malaysia juga harus mengakui ketertinggalannya.

MiG-29N Malaysia (foto: airliners.net)
Ketertinggalan yang begitu nyata ini membuat Malaysia tak ingin terus-menerus berada di barisan belakang. Negeri Jiran pun mulai menata industri pertahanannya. Tekad kuat untuk memajukan industri pertahann bisa dilihat dari besarnya dukungan dan campur tangan pemerintah. Tak hanya mentok soal kebijakan kerjasama pertahanan yang mengikutsertakan industri dalam negeri, tetapi juga gelontoran dana segar yang membuat industri pertahanannya tersenyum lebar.

Dalam daftar industri pertahanan Malaysia ada nama-nama seperti Composites Technology Research Malaysia (CTRM), Boustead Naval Dockyard (BN Dockyard), SME Ordnance (SMEO), dan DRB-Hicom Defence Technology (Deftech).

CTRM


Beberapa tahun terakhir industri kedirgantaraan Malaysia mengalami kemajuan yang signifikan. Salah satu industri yang didapuk sebagai pendorong percepatan alih teknologi dirgantara yaitu Composites Technology Research Malaysia (CTRM). Jika di Indonesia ada PT Dirgantara Indonesia (PT DI) maka di Malaysia ada CTRM yang jadi andalannya.

CTRM merupakan industri yang bergerak dibidang pembuatan komponen komposit pesawat terbang. Diluar itu CTRM juga ambil bagian dalam litbang material komposit, manufaktur sruktur komposit otomotif dan peralatan pertahanan. Pendek kata CTRM merupakan industri yang dijadikan wadah oleh pemerintah Malaysia untuk pengembangan industri berbasis teknologi tinggi terutama untuk bidang kedirgantaraan dan bahan komposit.

Perusahaan yang berada dalam lingkup CTRM diantaranya, CTRM Aviation Sdn Bhd, CTRM Aero Composites Sdn Bhd, CTRM Composites Engineering, CTRM Systems Integration, Unmanned Systems Technology Sdn Bhd, Aerotech Design Malaysia (ADM), dan Composites Testing Laboratory Asia Sdn Bhd.

Secara kemampuan, CTRM memang tak langsung membuat pesawat secara utuh. Tetapi lebih memilih membangun industri pesawat terbang melalui pembuatan komponen-komponen pesawat terbang. Sehingga setelah berhasil membuat berbagai komponennya, akan mampu membuat pesawat secara utuh. Hal ini berbeda dengan PT DI yang lebih memilih membuat pesawat terbang dengan cara sebaliknya (merakit pesawat terbang utuh, kemudian baru secara bertahap membuat komponen-komponennya).  

Komponen pesawat terbang buatan CTRM
Dari pembuatan komponen-komponen pesawat itulah, kemudian nama CTRM mulai dikenal industri kedirgantaraan dunia. Hal ini tak lepas dari keberhasilannya menjadi salah satu produsen komponen komposit untuk pabrikan pesawat terbang dunia, seperti Airbus dan Boeing.

Mengutip data yang dikeluarkan airframer.com, CTRM ambil bagian dalam pembuatan komponen pesawat Airbus A320, seperti leading edge, trailing edge, aileron, fixed fairing, underwing dan overwing spoiler. Sedangkan pada proyek pesawat anyar A350 XWB, “jagoan” malaysia ini juga mendapat jatah pembuatan komponen nacelles. Diluar itu CTRM juga ikut membuat komponen sayap pesawat superjumbo A380. Tak ketingggalan pembuatan komponen pesawat badan lebar Boeing B787 dan B777NG pun diambilnya.

Keinginan kuat menjadi salah satu produsen komponen pesawat global juga dibuktikan melalui kontribusi CTRM dalam pembuatan komponen pesawat angkut militer A400M. seperti wing trailing edge panels, vertical tail pane leading edge panels, horizontal tail plane trailing edge panels & actuator fittings, fuel pump fairing, nacelle extension fairing, dan main landing gear doors. Asal tahu saja pesawat angkut A400M merupakan produk anyar dari Airbus dan menjadi pesaing utama pesawat angkut militer andalan AS, C-17 Globemaster.

Airfish-8 (foto: bumimelaka.blogspot.com)
Untuik lebih meningkatkan kemampuan dan penguasaan teknologi, CTRM juga menjalin kerjasama dengan perusahaan lain, seperti kerjasama dengan Wigetworks Pte. Ltd untuk membangun kapal wing-in-ground effect (WIGE) Air-Fish 8kapal berkemampuan terbang 2 hingga 6 meter di atas permukaan laut. Kabar yang beredar kapal yang terbuat dari bahan komposit ini memiliki jarak jangkau hingga 600 km dan memiliki fungsi antara lain sebagai alat transportasi antar pulau.

Aludra (foto: CTRM)
Kiprah CTRM di industri pertahanan terlihat dari pembuatan pesawat tanpa awak (UAV) Aludra. Adapun UAV Aludra merupakan pesawat tanpa awak yang digunakan untuk mengamati dan mengintai medan tempur yang terbuat dari bahan komposit dan dikendalikan dari stasiun kendali darat (Ground Control Station/GCS). Saat ini UAV Aludra sudah dioperasikan oleh Angkatan Bersenjata Malaysia di perbatasan Sabah.
Radome (foto: Journey)
Radome pesanan RMAF (foto: CTRM)
Berbekal kemampuannya dalam pembuatan material komposit dan komponen pesawat terbang, CTRM kemudian juga dipercaya untuk mendesain dan membuat dua unit RADOME (struktur berbentuk seperti bola yang berfungsi untuk melindungi radar) untuk mengisi kebutuhan AU Malaysia (Royal Malaysian Air Force/RMAF). Sebanyak satu unit RADOME kini sudah terpasang di Bukit Kubong, Labuan, sedangkan unit kedua telah dipasang di Western Hill, Penang.

Nah, beragam kerjasama tersebut tentunya bisa menjadi sinyal bahwa Malaysia tak pernah main-main dalam memajukan industri pertahanannya (dalam hal ini industri kedirgantaraan). Seolah ingin mengejar ketertinggalannya, Malaysia mulai serius menata industri pertahanannya dan saat ini upaya tersebut sudah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan dan bukan tak mungkin di masa mendatang bisa menjadi pesaing industri pertahanan Indonesia dan Singapura. Ini yang harus diwaspadai. (Yudi Supriyono)

25 komentar:

Dialogika mengatakan...

Aludra atau industri UAV Malaysia bukannya atas jasa putera Indonesia Bapak Endri Rachman?

Aviasista mengatakan...

Kalo kontribusi pak Endri di Industri UAV malaysia memang benar, karena bapak Endri pernah mjd dosen di Universiti Sains Malaysia (USM) thn 2006 silam, kala itu ia menemukan UAV dan ironbird systems. Tetapi mengenai apakah dlm Aludra ada kontribusi Bpk Endri saya masih sangsi mengingat CTRM sendiri mengembngkan UAV sejak tahun 2003. memang pernah tersiar kabar UAV buatan bpk Endri dikopi oleh perusahaaan swasta malaysia, syangnya smpai saat ini saya blum th apakah perusahaan itu CTRM atau bukan. Mungkin anda bisa memberi saya media rujukannya. Sehingga bisa berbagi info kpd saya dan pembaca.

roy mengatakan...

Haduhh siapa itu namanya pak endri, sungguh tidak Nasionalis, jangan kita lengah dan jangan sampai kerahasiaan dalam teknologi pesawat bocor ke negara tetangga. negara yang selalu meremehkan indonesia. jangan sampai putra indonesia menjadi penghianat negara yang kita cintai ini indonesia raya

Aviasista mengatakan...

Pak Endri itu mantan teknisi IPTN (PT DI).
Kalo mnyebut beliau tidak nasionalis saya pribadi kurang setuju, mengingat beliau sendiri ke Malaysia juga karena keadaan, dmana kurangnya perhatian pemerintah terhadap mantan teknisi andal IPTN yang akhirnya banyak bekerja di pabrik pesawat dan menjadi dosen di luar negeri.

novski mengatakan...

Yang lucu ketika saya penelitian di PT DI, ada satu production line dengan plang nama CTRM, rupanya mereka mengorder juga ke PT DI yang katanya memiliki Autoclave terbesar di Asia Tenggara.

Katanya sudah sering mereka mengorder ke PT DI.

Aviasista mengatakan...

Yang bwt kita bangga lagi,
Pabrikan mobil Proton asal Malaysia juga order komponen otomotif dari indonesia!!

adfi mengatakan...

ane kirain murni malaysia.. ternyata.. bmw aja knalpotnya dari sini juga kan

Anonim mengatakan...

Ah...paling-paling tenaga2 ahli indonesia juga yang membuatnya. Waktu IPTN bangkrut khan mereka pada hijrah diantaranya ke malaysia....Malaysia bisa apa sih?????

Anonim mengatakan...

Kenalpot Orinya Mersi /Mercedes Benz aja dari Indonesia wkwkw

Anonim mengatakan...

Salam saudaraku serumpun,

Sebetulnya masih ada tenaga2 ekspatriat dari PT DI yang masih berkhidmat di CTRM. Tidak kurang dari 3 pakar ketika ini dan sememangnya kepakaran mereka amat dikagumi. Terima kasih Indonesia.

Anonim mengatakan...

jangan kayak gitu, malasya punya modal dan uang, dengan uang sah-sah saja beli teknolog dan manusia dari mana saja

Anonim mengatakan...

Seharusnya klo udah tau seperti itu pemerintah aktif buat mengembalikan para insinyur dan profesor indonesia yang bekerja di luar dengan diimingi gaji dan bonus yang besar biar negara ini maju sedangkan untuk memajukan bangsa indonesia yaitu dengan mengembalikan semua kekayaannya yang dijarah oleh koruptor.

Anonim mengatakan...

kita boleh bangga punya banyak tenaga ahli.....tp kita juga di ketawain oleh mereka krn kita bego ga bisa keep mereka utk tetep berprestasi di RI

Aviasista mengatakan...

Usul yang menarik..tapi sayangnya pemerintah belum melihat arti penting SDM anak negeri.

ika wati mengatakan...

malay dan indo harus beratu sprti masa majapahit satu wilayah.karena kita adalah dua negara yg di pisahkn oleh penjajah.

bagong kalibatur mengatakan...

Malaysia dan Indonesi tdk perlu bersatu. Kecuali mereka mau jadi bagian propinsi terbaru Indonesia. Dari embrio nya Malaysia itu sudah kurang ajar... Tdk ada itu atas nama serumpun dan agama.. Konsep nya adalah NKRI ! NKRI HARGA MATI!

sugianto harisantoso mengatakan...

Sekarang pinter2an antara ahli dg pejabat pemerintah/DPR, sebenarnya bangsa kita nasionalismenya tinggi dan dr nasionalisme diarahkan penggalangan dana dr rakyat. Memang hrs ada pemimpin yg berkorban, artinya kalau dia diserahi pengelola dana hrs mau dibagi sesuai kesepakatan dan dana hrs transparan/hrs selalu dilaporkan. Pasti maju Indonesiaku.

Anonim mengatakan...

ga apa2 khan kerja dinegeri orang so klo jadi perang negara kita jadi tau dech kemampuan mereka hehe...

Anonim mengatakan...

Saatnya industri pertahanan indonesia melangkah maju, masih banyak ilmuan ilmuan muda yang cinta tanah air, danai pengembangan apa yang mereka ciptakan buat bangsa, bisa lewat apbn atau pinjaman dalam negeri macam bank mandiri yang memberikan pinjaman buat bangun kcr clurit clas. Pokonya maju indonesiaku

MAHA MAHATAIR mengatakan...

malaysia bina drone pada tahun 2000 di dokong firma bae system, ia dikeluar pada 2003 nama nya eagle arv ia diguna di sabah sebelum malaysia mengantikan uav alurdra pada tahun 2008,pelajar2 malaysia di tempat di perusahaan uav emt germen kerana bakat mereka ada harus ingat bapa endri rachman telah meninggal projet uav malaysia pada 2006 posis diambil orang malaysia, bapa endri rachman telam buat uav sendiri di indonesia,endri terpaksa meminta dana dari japang kerana kerajaan indonesia tak menyediakan dana

Anonim mengatakan...

Harus diakui pemerintah malaysia lebih bijak daripada pemerintah kita yg sibuk mengurus partai dan lihat saja tiap hari berita korupsi selalu ada.

Anonim mengatakan...

Halaaah.... yang penting beramal sholeh dimanapun berada.
Otak kita harus bersih dr kata : benci, perang, musuh, dan kebanggaan semua.
Sesungguhnya manusia yg mulia itu adalah manusia yg beramal sholeh bagi kebaikan alam semesta.

nunul mengatakan...

banyak ilmuwan ahli teknologi tersebar diluar negeri. Inga perancang sistem pertahanan nato jg org indonesia. Bahkan pemilik prshan teknologi tinggi di as yakni marvel teknologi jg org ind. Blm lg tng2 ahli aeronotika yg tersebar di boeing., airbus bahkan di embraier. Pemerintah kita memang kurang perhatian thd kemampuan anak bgs, bahkan kemampuan pt di unt membuat heli tempur blm dilirik oleh pmrth. Memang sayang sekali kita yg punya potensi tp ngr lain yg memanfaatkan. Smg presiden terpili 2014 nanti mau mengoptimalln kemampuan anak negeri demi kejayaan nkri dimasa datang.

Anonim mengatakan...

masalah uav indonesia sudah ada kok tuh wulung dan konco konconya. jadi uav untuk asia tenggara ya biasa saja ga ada kelebihan baik itu aludra dan wulung masih satu level.

perisai langit timur mengatakan...

Sebagai bahan masukan bagi rekan2, untuk pencapaian keinginan kita semua dalam hal perwujudan kemandirian industri pertahanan, satu hal yg harus diwaspadai bahwa berdasarkan kepentingan pertahanan negaranya, ada pihak2 asing yg masih menganggap Indonesia sbg potensi ancamannya, sehingga secara otomatis mrk tdk menginginkan industri pertahanan kita beserta industri penunjangnya berkembang/maju. Hal ini adalah sangat logis, sebagai contoh Proyek Nuklir Irak,Iran dan Korut yg menuai upaya2 penghancuran/pemberhentian dari negara2 lawan mrk. Upaya2 tersebut dapat berwujud serangan fisik (Instalasi nuklir Irak), penggunaan Mahkamah Internasional ataupun "pengeroposan" secara langsung maupun tdk langsung terhadap kegiatan operasional pabrikan domestik kita yang berkaitan dengan : Dana, tenaga ahli, Bahan baku dan "keputusan/kebijakan pemerintah"... Waspadalah

Poskan Komentar