Pages

2 Mei 2012

Gandiwa: Heli Tempur Masa Depan Buatan Indonesia

foto: arc.web.id

Bagi Indonesia punya program pesawat tempur masa depan macam KF-X/IF-X yang notabene masuk kategori jet tempur generasi 4,5 memang belum cukup. Maklumlah kebutuhan TNI akan alutsista tak hanya mentok pada urusan pesawat tempur.  Sebagai contoh kebutuhan heli tempur dengan kemampuan serang sebagai “pelengkap” kehadiran pesawat tempur TNI juga sangat dibutuhkan dan semestinya tak boleh dilupakan. Apalagi jika yang dijaga adalah wilayah kepulauan seluas Indonesia. Kebutuhan itu tanpa melalui perdebatan panjang jelas wajib hukumnya.
  
Kiat untuk menutupi kebutuhan heli serang bukannya tak pernah dilakukan. Bahkan karena kebutuhannya yang lumayan mendesak, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) kemudian memodifikasi heli NBO-105 menjadi heli serang. Namun  namanya juga heli hasil modifikasi, kemampuannya tak bisa di samakan dengan heli tempur murni. Selain itu heli serang ini lebih cocok untuk bantuan tembakan udara (close air support) bagi soft target seperti pasukan infanteri, truk militer, rantis dan ranpur ringan. Sedangkan untuk hard target macam tank lebih cocok diemban oleh heli tempur.
foto:arc.web.id
Nah, berangkat dari kebutuhan heli tempur itulah PT DI berkreasi menciptakan konsep heli berkemampuan tempur sejati. Dengan kata lain PT DI sejak awal menggarap heli ini bagi keperluan tempur alias sebagai combat helicopter. Ini tentunya berbeda dengan helikopter-helikopter militer  yang selama ini dibuat oleh PT DI. Karena heli buatan PT DI (sampai saat ini) sejatinya merupakan heli dengan tugas sebagai pengangkut pasukan bersenjata, seperti NAS-332 Super Puma. Sedangkan tugas sebagai pelahap tank praktis masih kosong.

Dari Basis Bell-412
Berbekal pengalaman mengutak-atik berbagai jenis helikopter melalui lisensi, dari tangan dingin para insinyur Indonesia inilah lahir konsep helikopter tempur bernama Gandiwa. Sama halnya dengan produk pesawat buatan PT DI lainnya yang mengambil nama dari cerita pewayangan, seperti CN-235 yang memiliki nama tetuko (nama kecil Gatotkaca) dan juga N-250 yang memiliki nama Gatotkaca. Gandiwa dalam cerita pewayangan merupakan senjata busur milik Arjuna yang berisi anak panah dalam jumlah tak terhingga yang merupakan pemberian dewa Baruna.

Gandiwa yang basisnya diambil dari heli Bell-412 ini merupakan helikopter tempur dua awak berkonfigurasi tandem dengan kokpit bagian depan sebagai pos kopilot/penembak (gunner) sementara bagian belakang sebagai tempat pilot. Meski memakai basis Bell-412, heli ini sudah mengalami banyak perombakan sehingga dijamin bakal punya rasa berbeda. Perbedaan paling mencolok adalah konfigurasi kokpit yang dirombak habis-habisan. Berbeda dengan heli Bell-412 dimana posisi pilot dan kopilot yang berjumlah dua orang duduk berdampingan (side-by-side), pada Gandiwa posisi mereka dibuat duduk depan-belakang (tandem). Dengan rombakan kokpit macam ini sekilas sosok Gandiwa mirip dengan AH-1 Super Cobra yang merupakan heli andalan Korps Marinir AS.

Selain itu tak ketinggalan bagian hidung Gandiwa mengalami sedikit perubahan. Tak lagi terlihat polos seperti Bell-412, tampilan hidung heli ini tampak garang dengan terpasangnya kubah kanon di bagian dagu yang dapat diputar ke kanan dan ke kiri untuk menambah fleksibilitas serangan. Perubahan lainnya juga terjadi pada bodi Gandiwa. Ruang kosong ditengah bodi yang biasanya digunakan untuk menggotong pasukan dieliminasi. Dengan begitu bentuk fisik Gandiwa menjadi lebih ramping ketimbang Bell-412. Kiat ini tak lain juga untuk mendongkrak manuver dan kecepatan heli saat melakukan serangan terhadap musuh. Selanjutnya dikanan-kiri bodi terpasang sayap kecil (stub wing) untuk mendongkrak daya angkat heli dan berfungsi sebagai cantelan senjata.

Rampung urusan fisik, kini giliran bicara mesin penggeraknya. Untuk soal ini, Gandiwa direncanakan menggunakan dua buah mesin buatan Pratt and Whitney Canada PT6T-3BE yang masing-masing mesin mampu menghasilkan daya 900 shp. Selain itu, heli dengan empat rotor blade yang sepenuhnya terbuat dari komposit ini mampu digeber hingga kecepatan 259 km/jam.

Beralih ke soal senjata. Daftar persenjataan yang dibawanya bervariatif, antara lain kanon laras tunggal kaliber 30 mm tipe M230 Chain Gun. Sementara pada stub wing terdapat empat cantelan senjata. Masing-masing cantelan mampu mengusung berbagai jenis senjata. Untuk roket misalnya, heli tempur ini mampu menggotong roket Hydra 70 dan CRV7 kaliber 70 mm. Kemudian soal rudal antitank, Gandiwa mampu membawa persenjataan seperti rudal anti-tank Hellfire.

Jika melihat daftar persenjataan yang dibawanya, heli tempur Gandiwa sepertinya hendak meniru keampuhan AH-64 Apache-nya AS. Lihat saja kanon tipe M230 Chain Gun yang biasanya menjadi salah satu senjata andalan Apache. Bedanya, pada Apache kanon ini terletak dibawah badan dengan posisi diantara main landing gear. Kemiripan lainnya terletak pada senjata roket Hydra 70 dan CRV7 serta rudal Hellfire yang juga biasa diusung Apache.

Terlepas dari kehadiran Gandiwa, sebenarnya keinginan untuk memiliki heli tempur pernah direalisasikan TNI melalui pembelian heli tempur buatan Rusia. Simak bagaimana kedatangan heli tempur Mi-35P tahun 2003 silam. Kala itu pembeliannya dilakukan bersamaan dengan jet tempur Sukhoi yang kemudian menjadi berita panas yang menjadi headline surat kabar nasional maupun daerah.

Tapi toh namanya juga alutsista asing, kehadirannya tidak boleh selamanya jadi andalan angkatan bersenjata, terlebih bagi Indonesia yang sudah memiliki industri pesawat terbang sendiri. Bagaimanapun dengan perkembangan industri pertahanan nasional (dalam hal ini industri dirgantara), kehadiran Gandiwa—meskipun sampai saat ini konsepnya masih berada di atas kertas, bisa menjadi alternatif untuk mengurangi dominasi alutsista asing yang masih banyak mengisi armada tempur TNI.

Bumblebee
Sebenarnya kemunculan heli yang dirancang dengan kemampuan tempur bukan kali pertama ditampilkan oleh PT DI. Dalam pameran pertahanan Indodefence 2010, PT DI sudah terlebih dulu menampilkan miniatur helikopter serang ringan dengan nama Bumblebee-001. Bedanya heli ini basisnya diambil dari heli ringan serbaguna NBO-105. Tapi entah kenapa (mungkin karena minimnya pendanaan) konsep heli ini cuma berhenti diatas kertas. (Yudi Supriyono)

Spesifikasi Gandiwa:
Panjang: 17,1 m
Diameter rotor utama: 14 m
Berat kosong: 3.079 kg
MTOW: 5.397 kg
Mesin: 2 x Pratt and Whitney Canada PT6T-3BE, masing-masing berdaya 900 shp (shaft horse power)
Kecepatan maksimum: 259 km/jam
Jarak tempuh: 745 km
Persenjataan:
Kanon laras tunggal M230 Chain Gun kaliber 30 mm
Roket Hydra 70 dan CRV7 kaliber 70 mm
Rudal AGM-114 Hellfire

21 komentar:

Anonim mengatakan...

saya mau tanya nih, ini heli itu sekarang tahap produksi nya udah sampe mana? masih konsep doang atau udah ada uji model pesawat atau masih cari teman kerja sama dan investor? mohon penjelasan nya...

Aviasista mengatakan...

heli ini masih sampai tahap konsep..kalo menuju tahap produksi (menurut saya pribadi)sepertinya agak berat karena development-nya butuh dana besar. sbg contoh pngembangan CN-235NG dan N-219 aja udh molor lama.

alasan lainnya utk pengembangan heli tempur di Indonesia prospek pasarnya kurang baik, maklum pembelinya cm TNI doang, itupun dengan anggaran pertahanannya terbatas.

oase_medina@yahoo.com mengatakan...

Mimpi2 anak bangsa yang tak pernah terwujud....

Anonim mengatakan...

ijin copi

hal seperti ini perlu dukungan semua pihak, karena tanpa inovasi baru, pengembangan di ptdi akan mandeg / terputus... akan sulit memulai kembali dari awal..

wongkitojowo mengatakan...

duit para pengusaha daripada buat nyawer penguasa mending buat bantu pengembangan tekhnologi anak negeri

Hanif sakala mengatakan...

sya hrp ini bisa cpt terealisasi!
q yakin MENTRI BUMN dan MENHAN sgt mendukung program2 NASIONAL,
Klo mslh pasar tdk ush kwtir slma hrga bsa bersaing dg produk2 AS n RUSIA mka pasti laku,tentux pengguna pertma x ya TNI,krn gmn mw dlrik Asing klo TNI sja tdk menggunakanx!

Aviasista mengatakan...

hal sperti ini pernah ditakutkan oleh para petinggi PT DI.
dengan adanya "proyek baru" bisa memberikan pengalaman kepada para insinyur PT DI yang masih muda, shg bakal ada regenerasi terhadap insinyur yg berusia tua. Sbg contoh untuk test pilot saja juga kena krisis. untuk fixed wing setau saya tinggal 3 orang. Bahkan kabarnya dua flight engineer-nya sampai di latih jadi test pilot.

Anonim mengatakan...

harus ada tekat & kemauan yang keras, dan sudah barang tentu regulator siap mengucurkan modal, contoh proyek RHan 122.
Pemerintah sangat diharapkan keterlibatannya langsung, kalo mau mandiri dan berdikari demi bangsa, negara & TNI.

segera kerjakan..!!

Aviasista mengatakan...

Yang paling penting tentu kualitasnya.Bila produk dlm negeri pny hrga lebih mahal sedikit namun kualitas bgs pasti juga akan dibeli pemerintah slma anggaran mencukupi tentunya.

Dgn anggaran mencukupi, pemerintah bisa membeli dalam jumlah bnyak, dengan bgitu harga bisa ditekan. Shg bisa mempercpat tercapainya BEP.

Aviasista mengatakan...

Saya setuju..

Harapannya kedepan proyek2 mandiri di PT DI bisa segera mendapat perhatian.

Anonim mengatakan...

ini PR buat pemimpin2 bangsa indonesia serta petinggi2 TNI dan POLRI jika kami anak bangsa sudah mampu berkarya...maka berikan kami kesempatan mungkin kali ini belum maksimal tapi kelak kepercayaan penuh dan motivasi kuat serta penghargaan yang tinggi kepada hasil karya kami kelak bisa kami sandingkan dengan hasil karya terbaik dunia yang lain.....atau selamanya kita akan dibawah teknologi bangsa lain...seperti riwayat2 teknologi yang sudah lalu...

Abe mengatakan...

Semoga cepat tewujud,Amin semoga ina menjadi barometer teknologi muslim dari timur,dan menunggu kbngkitn islm yg ke 2 tentunya

ika wati mengatakan...

indonesia jgn cuma bisa mmbeli,tpi harus berusaha bisa mmproduksi heli,pswat tmpur,kpal selam,tank,rudal antar benua.kpal induk,dll.

Aviasista mengatakan...

Setuju sekali..

Anonim mengatakan...

Mslhnya DPR kt bro yg bobrok .selalu curiga dan persulit persetujuan dn proyek2 pertahanan nasional.selalu itung2an utungrugi...gak sepenuh ht berpikir tuk kedaulatan nkri.

raka anom mengatakan...

Pemerintah dan dpr bisanya membuat uu industri pertahanan, tapi dukungan kpd industri pertahanan kurang atau tdk ada sama sekali. Tolong pemerintah dan dpr dlm hal ini pjabat2nya perhatikan industri pertahanan dlm negeri, dukung mrk dlm modal, insentif bagi ahli2 dlm penelitian dan pengembangan alutsista serta dalam pengadaan prototype dan produksi setelah lolos uji coba. Jng hanya membeli, industri dlm negeri bisa maju jika diberikan kesempatan, blajr dr iran, china, dll, jng hny beli dr luar dng alsn krn industri dlm negeri blm bisa buat. Saya prcaya klau dibrikan ksmpatan, pakar/ahli2 kita mampu blajar dan maju dlm iptek dalam kaitannya dng bidg militer, jng hny beli alutsista dr luar 4ng hrg mahal utk ambil keuntungan dr selisih dng harga aslinya sblm di mark up. Udah ga rahasia lg kalau pjabat2 di pemerintahan dan di dpr, bahkan sampai lurah atau kepala desa aja mainkan bantuan. Masih ada kesaempatan utk berubah, blm telat. Ini suara anak bangsa. Utk PT DI yg merancang gandiwa, utk peluncur roketnya klau bisa dirancang jng peluincurnya utk bawa satu roket utk satu bagian, coba di rancang dulu sblm digabungkanb ke sayap helikopter peluncur yg bisa bawa 6 atau 8 roket utk satu peluncur lalu di uji coba dng demikian klau utk 2 sayap.ada persediaan 12- 16 roket shg lebih efisien dlm mnghncurkan tank atau artileri atau pertahanan musuh.

Anonim mengatakan...

rotor belakangnya kenapa tidak menggunakan model fan rotor saja daripada menggunakan rotor regular yang seperti ini?jika menggunakan rotor model fan saya yakin kelincahannya dan silhoutte dari gandiwa akan semakin mempersulit musuh untuk menyerang

Anonim mengatakan...

Mimpi

isan risnan mengatakan...

sulit rasanya klo pemerintah dan DPR tdk mau mendukung 100% tuk menggelontorkan dana besar ke industri pertahanan nasional.rasa2nya pemerintah kita masih kurang percaya dgn kemampuan bangsanya sendiri.berbeda dgn negara2 maju macam usa,israel,jerman,inggris yg pemerintahannya sendiri selalu mensuport industri dlm negrinya dan tanpa ragu menggelontorkan dana besar,klo bgini jdinya indonesia ga pernah akan maju industri militernya sendiri

Anonim mengatakan...

GANDIWA, KLEWANG, ANOA ..... merupakan alutsista canggih Made in Indonesia.

Anonim mengatakan...

Better than Crapache

Poskan Komentar