Pages

28 Juli 2012

Fokker F-27 Troopship: Pesawat Angkut Militer Tangguh TNI AU

Fokker F-27 Troopship milik TNI AU (foto: Kompas.com)
Kamis tanggal 21 Juni lalu tentunya menjadi salah satu hari suram dalam dunia penerbangan Indonesia. Betapa tidak, belum hilang dalam ingatan kita mengenai jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 bulan Mei lalu, kini lagi-lagi publik dikejutkan dengan peristiwa jatuhnya pesawat Fokker F-27 Troopship tipe 400M milik Skadron Udara 2 TNI-AU.

Seperti banyak diberitakan oleh media massa Tanah Air, pesawat ini jatuh di Komplek Rajawali, Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta. Peristiwa tragis yang terjadi pada pukul 14.45 WIB ini menewaskan tujuh awak pesawat, serta empat warga perumahan. Selain korban nyawa, tercatat delapan bangunan (tujuh rumah kediaman anggota TNI AU dan satu aula RT) mengalami kerusakan parah akibat tertimpa badan pesawat.

Menurut Wakil Kepala Staf TNI AU, Marsekal Madya TNI Dede Rusamsi, pesawat Fokker F-27 yang jatuh tersebut masih layak terbang. Pesawat F-27 ini telah menjalani perawatan rutin sesuai jadwal dimana pemeriksaan terakhir dilakukan pada tanngal 1-15 Juni 2012 (Antara, 21/6/2012). Pesawat dengan nomor registrasi A-2708 ini juga memiliki mesin yang masih layak operasi dengan jam pemakaian sekitar 9.200 jam operasi.

Kecelakaan yang terjadi di Halim Perdanakusuma tentunya menambah daftar panjang kecelakaan F-27 di Indonesia. Tercatat sejak masuk pertama kali ke Indonesia tahun 1966, pesawat ini telah mengalami kecelakaan sebanyak sembilan kali dimana kecelakaan pertama terjadi pada tahun 1972.

Sedangkan bagi TNI AU, kecelakaan ini menjadi kecelakaan kedua Fokker F-27. Sebelumnya pada 6 April 2009, pesawat jenis ini mengalami musibah jatuh di Pangkalan Udara TNI AU Husein Sastranegara, Bandung. Kala itu pesawat Fokker F-27 dengan nomor registrasi A-2703 jatuh menimpa hanggar Aircraft Services milik PT Dirgantara Indonesia dan menewaskan 24 personel TNI AU.

Tangguh
Dalam dunia penerbangan, nama Fokker F-27 memang sudah tak asing lagi. Pesawat angkut buatan pabrikan pesawat asal Belanda, Fokker Aviation ini termasuk pesawat laris. Selain dipakai oleh Indonesia dan Belanda, pesawat ini juga dipakai Irlandia, Finlandia, dan Spanyol. Untuk kawasan regional Asia Tenggara tercatat Thailand, Singapura, dan Filipina menjadi operator pesawat jenis ini. Bahkan Amerika Serikat yang dikenal sangat maju dalam teknologi dirgantara, sampai-sampai mengembangkan versi stretch-nya secara mandiri dengan kode FH-227.
Tampilan kokpit Fokker F-27-400M Troopship (airliners.net)
Pesawat Fokker F-27 dirancang pada tahun 1950-an dan prototipenya terbang perdana 24 November 1955. Versi awal pesawat ini dibuat sebagai pesawat angkut penumpang (versi sipil) jarak pendek hingga menengah dengan nama Friendship. Untuk memenuhi keperluan militer, F-27 versi sipil ini kemudian dikembangkan Fokker kedalam versi militer dengan nama Troopship.

Fokker F-27 yang memiliki panjang 23,56 meter dan rentang sayap 29 meter ini ditenagai sepasang mesin turboprop Rolls-Royce Dart Mk 532-7 yang masing-masing mampu menghasilkan gaya dorong 1.678 kW.  Dengan kedua mesin ini, F-27 memiliki kecepatan jelajah normal 480 km/jam dengan jarak jelajah operasional 1.158 km.

Pesawat versi militer ini dikenal tangguh dan memiliki sejumlah keunggulan. Pesawat ini merupakan pesawat angkut multiguna yang dapat digunakan untuk mengangkut personel, logistik, penerjunan personel, hingga pelepasan logistik dari udara (dropping logistik). Untuk itu pesawat memiliki pintu kargo ukuran besar yang mampu mengakomodasi berbagai macam keperluan militer. Khusus untuk F-27 tipe 400M mampu mengangkut muatan kargo seberat 6.148 kg.
Visual kabin Fokker F-27-400M Troopship (foto: airliners.net)
Konfigurasi kabin untuk membawa kargo juga dapat diubah untuk mengangkut pasukan para (paratroop). Untuk fungsi ini, pesawat dilengkapi pintu samping dimasing-masing sisi belakang badan pesawat yang memudahkan penerjunan pasukan para. Total tak kurang dari 45 pasukan para mampu di angkut pesawat ini.

Fokker F-27 dikenal memiliki kemampuan mumpuni. Pesawat bermesin ganda dengan konfigurasi sayap tinggi (high wing) ini masuk kategori pesawat STOL (Short Take-Off and Landing), yakni pesawat yang memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan pendek. Hal ini tentu membuat F-27 sangat cocok dengan kondisi lapangan terbang di Indonesia, apalagi menurut data dari Indonesia Aerodrome Index Chart 2005, Indonesia memiliki sekitar 235 lapangan terbang aktif dengan panjang landasan kurang dari 1.200 meter.

Pesawat Kodal
Utamanya F-27 milik TNI AU dipakai untuk penerjunan personel dan sebagai pesawat angkut. TNI AU yang memiliki delapan pesawat jenis ini tercatat pernah mengoperasikan pesawat ini untuk operasi penyelamatan ketika tenggelamnya kapal KM Tampomas II di Masalembo (Januari 1981), serta membantu transportasi udara ketika awak kabin Garuda Indonesia melakukan aksi mogok terbang (Januari 1980).

Bahkan pada tahun 2003 silam, TNI AU menggunakan F-27 sebagai pesawat komando pengendali (kodal) dalam operasi militer di Nanggroe Aceh Darusalam (NAD). Kala itu, pesawat F-27 di tempatkan di lapangan udara Medan melengkapi satu flight pesawat gaek OV-10 Bronco.

Sayangnyanya, F-27 andalan TNI AU ini tak dilengkapi persenjataan rudal. Padahal di negara lain biasanya pesawat kodal dibekali dengan alat bela diri sepeti rudal. Bila dilihat lebih jauh, F-27 versi kodal ini memiliki sejumlah perbedaan dibanding versi pesawat angkut pasukan. Pada kabin terdapat modifikasi dengan memasang sejumlah tempat duduk bagi para jenderal, serta tak ketinggalan terpasang perangkat komunikasi multifungsi.

Sejarah F-27 Di Indonesia
Menilik sejarahnya, awal kiprah F-27 di Indonesia dimulai ketika perusahaan minyak nasional, PT Pertamina, menggunakan pesawat ini sebagai pesawat angkut lintas daerah di Indonesia untuk menerbangi kota-kota seperti Sorong, Palembang, dan Medan. Tak hanya itu, Pertamina juga pernah mengirim satu unit F-27 ke Irian Barat saat berlangsungnya Pepera (Pengumpulan Pendapat Rakyat) pada tahun 1969.

Pertamina memesan dua unit F-27 tahun 1965, dimana pesawat pertama tiba pada tahun 1966 dengan nomor registrasi PK-PFA, disusul pesawat kedua dengan regristrasi PK-PFB. Menariknya, pesawat kedua milik Pertamina ini pernah digunakan sang pabrikan Fokker untuk mempromosikan F-27 di beberapa Negara Asia dengan Mayor Sudarjono1) sebagai pilotnya.
F-27-500 Friendship milik Merpati Nusantara Airlines pada tahun 1983 (foto: airliners.net)
Setelah itu, giliran Garuda Indonesia menjadi pengguna F-27 berikutnya.  Tahun 1969 menjadi tonggak awal penggunaan F-27 di maskapai penerbangan nasional ini. Namun masa tugasnya di Garuda terbilang singkat, tahun 1977 atau belum genap satu dasawarsa, pesawat mulai dihentikan pengoperasiaanya seiring beralihnya Garuda  menggunakan pesawat jet.

Di Indonesia, selain Garuda tercatat versi sipil pesawat ini juga pernah digunakan oleh Merpati Nusantara Airlines, Pelita Air, dan Sempati Airlines. Maskapai-maskapai ini menggunakan Fokker F-27 untuk melayani rute penerbangan di dalam negeri.

Diganti dengan NC-295
Yang namanya pesawat tua tentunya tak mungkin terus jadi andalan, apalagi kiprah F-27 tak berakhir bagus. Sejak kecelakaaan 21 Juni lalu, seluruh armada F-27 TNI AU yang telah mengabdi selama kurang lebih 36 tahun di-grounded. Sehingga sangat tepat sekali bila Kementerian Pertahanan membeli sembilan NC-295 pada pameran kedirgantaraan Singapore Air Show untuk menggantikan pesawat uzur ini. Kabar yang beredar dua unit NC-295 akan diselesaikan pada tahun ini, sedangkan sisanya akan diselesaikan secara bertahap hingga tahun 2014. (Yudi Supriyono)

Daftar F-27 Troopship milik TNI AU:
– Nomor registrasi A-2701 (tiba 7 September 1976)
– Nomor registrasi A-2702 (tiba 26 September 1976)
– Nomor registrasi A-2703 (tiba 26 September 1976)
– Nomor registrasi A-2704 (tiba 20 Oktober 1976)
– Nomor registrasi A-2705 (tiba 1 November 1976)
– Nomor registrasi A-2706 (tiba 12 November 1976)
– Nomor registrasi A-2707 (tiba 29 November 1976)
– Nomor registrasi A-2708 (tiba 9 Februari 1977)

Spesifikasi Fokker F-27 Troopship:
Awak: 2-3
Panjang: 23,56 m
Rentang sayap: 29 m
Kecepatan jelajah normal: 480 km/jam
Jarak jelajah operasional: 1.158 km
Mesin: 2 x  Rolls-Royce Dart Mk 532-7, masing-masing berdaya dorong 1.678 kW

Endnote:
1) Mayor Purnawirawan Sudarjono merupakan tokoh yang berjasa membawa pulang F-27 ke Tanah Air. Tokoh yang tak lain merupakan adik kandung pendiri TNI-AU, Agustinus Adisucipto, ini pernah mengikuti pendidikan terbang selama 3 bulan di Schipol (Belanda), sekaligus menjadi pilot pertama Fokker F-27 di Indonesia. Pada bulan September 1966, Pertamina mengirim Sudarjono—yang waktu itu baru satu bulan bergabung dengan Pertamina—ke Belanda untuk menjemput Fokker F-27 pertama yang telah selesai dibuat. Setelah itu pada 3 Januari 1967 Sudarjono kembali ke Schipol untuk mengambil pesawat kedua.
____________________
Referensi:
1. Kenneth Munson, “Bombers in Service. Patrol And Transport Aircraft Since 1960”, (Dorset: Blanford Press: 1975), hal. 33, 106, dan 107
2. Angkasa No.11 Agustus 1995, “Kargo Udara Kapasitas Sudah Tidak Cukup”, hal. 11
3. Angkasa No. 9 Juni 2003, “Pengendali Perang”, hal. 23
4. Antaranews.com, 21 Juni 2012, “Pesawat Fokker F-27 layak terbang”, diakses 27 Juni 2012
5. Antaranews.com, 21 Juni 2012, “Sudahdua Fokker F-27 Skuadron Udara 2 TNI AU jatuh”, diakses 27 Juni 2012
6. Airliners.net, “The Fokker F-27 & Fairchild F-27 & FH-227, diakses 27 Juni 2012
7. Republika.co.id, 21 Juni 2012, “Delapan Bangunan Tertimpa Fokker 27”, diakses 27 Juni 2012
8. Tempo.co, 21 Juni 2012, “Sudah 9 Fokker F-27 Jatuh di Indonesia”, diakses 27 Juni 2012
9. Solopos.com, 21 Juni 2012, “FOKKER F-27: Di Indonesia, Pertamina Jadi Pengguna Pertama”, diakses 27 Juni 2012
10. Antaranews.com, 23 Juni 2012, PTDI Percepat Produksi Pesawat N295”, diakses 25 Juli 2012
11. Merdeka.com, 21 Juni 2012, Mayor Sudarjono, pilot pertama Fokker 27di Indonesia”, diakses 25 Juli 2012

*) Tulisan ini sudah dimuat Harian Suara Merdeka tanggal 9 Juli 2012

0 komentar:

Poskan Komentar