Pages

30 Januari 2012

APR-1: Ranpur Battle Proven Buatan Pindad

APR-1
Melihat lembar sejarahnya, kelahiran panser ini bermula dari embargo peralatan militer yang dilancarkan AS sejak tahun 1999 dan disaat bersamaan banyak alutsista TNI Angkatan Darat macam kendaraan tempur (ranpur) pengangkut personel yang sudah menua tetapi masih menjadi arsenal tempur utama. Terlebih kebutuhan ranpur pengangkut personel kala itu masuk kategori mendesak. Alasannya tak lain karena akan dipakai dalam operasi militer untuk menumpas kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Kesempatan emas datang tatkala Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto pada suatu kesempatan meminta Pindad membuat kendaraan pengangkut personel untuk mengisi kebutuhan TNI. Tanpa banyak gembar-gembor, permintaan itu disambut Pindad dengan melansir kendaraan pengangkut personel berlabel APR-1 (Angkut Personel Ringan-1).

Panser yang masuk kategori Armoured Personnel Carrier (APC) beroda empat ini menggunakan sasis dan mesin truk Isuzu 4x4. Jika melihat sosoknya, panser ini lebih menyerupai mobil Kijang dengan bodi ramping dan memanjang yang dipasangi “baju” lapis baja antipeluru. Selain itu dibagian atas panser terdapat turret atau menara putar yang dapat berputar 360 derajat sebagai kubah tempat penembak.

Walaupun mengadopsi sasis truk—yang tidak berasal dari kendaraan militer, kemampuan panser ini tak bisa dianggap remeh. Lihat saja kemampuannya dalam melahap berbagai medan berat dan terjal. Tak ketinggalan kemampuannya bermanuver dengan lincah dan gesit menjadi keunggulan tersendiri. 

Contoh nyatanya tahun 2004 silam, panser ini pernah membuktikan keampuhannya beraksi di medan tempur saat berlangsungnya Darurat Militer di Aceh. Melihat keandalan dan kebandelannya beroperasi di segala medan plus kemampuannya yang sudah teruji dilapangan maka tak salah jika APR-1 menjadi salah satu ranpur buatan Indonesia yang mendapat predikat battle proven. Luar biasanya, dari 40 APR-1 yang digelar di Aceh, hanya dua unit yang mengalami kerusakan (satu kecelakaan dan satu lagi karena diterjang tsunami).

Keunggulan lainnya,  dari segi kecepatan panser satu ini sanggup digeber hingga kecepatan 100 km/jam. Sehingga memungkinkannya untuk melakukan pengejaran terhadap musuh. Soal persenjataan, APR-1 mampu menggotong beragam senjata yang membuatnya kian garang, mulai dari pelontar granat otomatis AGL-40, senapan mesin berat (SMB) kaliber 12,7 mm, senapan mesin sedang (SMS) kaliber 7,62 mm hingga pelontar granat kaliber 60 mm.

APR-2 (foto: Kina)
Sukses dengan APR-1 garapannya, Pindad kemudian mengembangkan panser dengan nama APR-2. Secara teknis panser ini masih sama dengan sang kakak, terutama yang paling mencolok ada pada jumlah roda dan pemakaian sasis Isuzu yang menjadi kerangka panser. Tetapi secara kasat mata APR-2 berbeda, terutama pada ukuran bodinya yang lebih besar dan menyerupai minibus yang biasa kita lihat sehari-hari. Sehingga kadang-kadang disebut “minibus” lapis baja. Selain itu jika sang kakak dibuat untuk memperkuat TNI, APR-2 dibuat untuk memenuhi kebutuhan Polri.

MRAP

Sebagai gambaran beginilah sosok MRAP 
Mengingat semakin banyaknya kebutuhan TNI AD terhadap berbagai jenis mesin perang darat, maka Pindad—sebagai salah satu industri pertahanan di Indonesia yang fokus pada pembuatan alutsista darat, kini sedang mengembangkan rancangan panser APR-1 Next G. Kabar baik ini berhembus beberapa waktu lalu dari Kiara Condong yang menjadi markas Pindad.

foto: en.wikipedia.org
Kabarnya ranpur ini berbeda dengan varian APR-1 terdahulu. Dari desainnya ranpur anyar ini bakal mengadopsi V-Shapped Hull. Penggunaaan V-Shapped Hull tak lain untuk menangkis ledakan dari bawah kendaraan yang biasanya berasal dari ledakan ranjau darat dan bom pinggir jalan (Improvised Explosive Device/IED). V-Shapped Hull sendiri merupakan salah satu ciri dari MRAP (Mine Resistant Ambush Protected).

Perlu kita tahu, MRAP merupakan ranpur lapis baja yang dirancang khusus untuk melindungi prajurit dari serangan dan sergapan musuh dalam bentuk serangan senjata ringan, bom pinggir jalan maupun serangan ranjau darat.

Selain itu—seperti ciri umum dari MRAP, varian anyar ini bakal memiliki bodi besar yang dilapisi ceramic armour. Diluar itu juga akan menggunakan ban ukuran besar dengan tapak lebar. Jika ranpur ini berhasil dibuat akan menjadi MRAP pertama buatan Indonesia. Dan yang tak kalah penting menjadi salah satu bukti bahwa Pindad tak pernah berhenti berkreasi menciptakan beragam jenis ranpur bagi kebutuhan TNI. (Yudi Supriyono)

Spesifikasi APR-1:
Produsen: PT Pindad
Awak: 12 (1 pengemudi, 1 navigator, dan 10 personel)
Kecepatan maksimum: 100 km/jam
Berat maksimum: 5,2 ton
Ground Clearance: 35 cm
Sasis: NKR 55 buatan Isuzu
Mesin: Turbodiesel 3.200 PK

28 Januari 2012

Capaian dan Program Kedepan PT DI (2)

2. Dibidang  Pesawat Tempur

                                                               sseveneleven.wordpress.com
Kabar baik yang datang adalah kerjasama pembuatan pesawat tempur KF-X/IF-X antara PT DI dengan Korean Aerospace Industry. Bahkan bulan Desember lalu, PT DI meresmikan kantor Design Center pesawat tempur KF-X/IF-X. Peresmian Design Center ini hanya berselang 4 bulan dari peresmian fasilitas serupa di Korsel.

Perlu kita tahu, Design Center ini akan digunakan untuk mendukung kegiatan para insinyur Indonesia dalam Tim Enginering pesawat tempur KF-X/IF-X dan untuk memberikan pengalaman kepada para insinyur Indonesia yang masih muda. Sehingga akan ada regenerasi terhadap para insinyur PT DI yang sudah berusia tua kepada insinyur yang berusia lebih muda.

Beberapa waktu lalu, salah satu anak bangsa yang ikut men-design pesawat tempur KF-X/IF-X sempat menuliskan pengalamannya di Korea Selatan. Menurut kisahnya insinyur Indonesia terlibat adu pendapat dengan para insinyur dari Korsel. Maklum seperti halnya pesawat terbang hasil kerja bareng, seringkali muncul perbedaan diantara kedua belah pihak dalam tahapan perancangan dan pengembangannya. Para insinyur Indonesia juga mengalami hal serupa.

Meskipun Indonesia tidak seberpengalaman Korsel dalam membuat pesawat tempur, beruntungnya sebagian besar insinyur Indonesia justru membawahi insinyur Korsel. Dalam perancangan pesawat tempur itu, Insinyur Indonesia banyak menjadi panutan dan leader dalam sub-sub bidang engineering. (Untuk lebih jelasnya baca “Surat Elang Muda dari Korea” diwebnya Bapak Chappy Hakim). (Yudi Supriyono)

Artikel Terkait:

27 Januari 2012

Capaian dan Program Kedepan PT DI (1)


Selama 35 tahun berkiprah dalam industri kedirgantaraan dunia, kondisi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memang belum bisa dikatakan membaik. Paling tidak masih banyak PR yang harus dilakukan Pemerintah untuk membangkitkan kembali industri pesawat terbang kebanggaan bangsa ini.

Bila dirunut kebelakang, pasca krisis moneter mendera ekonomi Indonesia, industri pesawat terbang yang sempat dijuluki “Everett of the East” ini memang mengalami perubahan drastis. Jika dulu perusahaan ini mendapat subsidi dari pemerintah dan begitu memukau dengan proyek pesawat N250 dan N2130, pasca krismon, praktis kondisinya berubah 180 derajat alias menyedihkan.

Kondisi yang serba terbatas mau tak mau membuat PT DI menguatkan tekad untuk mandiri. Beragam cara dilakukan perusahaan ini untuk tetap eksis dijajaran industri pesawat terbang dunia. Hasilnya? Kita bisa melihat sedikit demi sedikit produsen pesawat yang dulu bernama IPTN ini mulai bisa mengepakkan sayapnya untuk terbang lebih tinggi. Berikut tulisan berseri mengenai capaian dan program kedepan PT DI.

1. Dibidang Pesawat Terbang

Kali ini produsen pesawat terbang satu-satunya di negeri ini tidak hanya hadir dengan pesawat CN235—yang selama ini menjadi produk andalannya, tetapi juga hadir dengan pesawat “baru” NC295 (kadang juga disebut CN295). Pesawat NC295 ini akan diproduksi di Indonesia melalui kerjasama dengan Airbus Military. Melalui kerjasama ini, PT DI akan mendapat hak eksklusif untuk membuat dan memasarkan pesawat NC295 di kawasan Asia Pasifik.

Kerjasama dengan Airbus Military juga tak lepas dari peran banyak pihak, salah satunya pemerintah. Hal ini bisa dilihat dari upaya aktif pemerintah memfasilitasi perjanjian kerjasama produksi dan pemasaran pesawat NC295 antara PT DI dengan Airbus Military beberapa waktu lalu. Tak tanggung-tanggung, proyek produksi pesawat tersebut disaksikan dan diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Semua itu tak lain merupakan bagian dari rencana untuk memajukan industri dirgantara nasional. Kabar baiknya upaya pemerintah memberdayakan produk dirgantara yang diproduksi oleh PT DI sudah diwujudkan dalam aksi nyata pemesanan. Rencananya sampai tahun 2014 TNI AU akan diperkuat dengan 9 pesawat jenis ini. Yang tak kalah menarik tentunya adalah pembuatan sebagian besar komponen pesawat NC295 yang akan dilakukan oleh PT DI.

CN235 ASW milik Turki (foto: turkishnavy.net)
Cerita lain lagi ditorehkan oleh pesawat CN235MPA. Pesawat yang basisnya diambil dari CN235 versi angkut ini telah berhasil dikembangkan menjadi varian CN235 Anti-kapal selam (Anti-Submarine Warfare-ASW). Pengembangan pesawat ini menjadi varian ASW berawal dari permintaan Turki yang menginginkan 9 pesawat CN235 miliknya untuk dirombak menjadi CN235 MPA (6 unit) dan CN235 ASW (3 unit).

Model CN235NG
Dalam proyek ini tenaga ahli PT DI dikirim ke Turki untuk diperbantukan dalam perancangan dan modifikasi CN235 ASW. Meskipun pengembangan CN235 ASW dilakukan di Turki, tetapi menariknya PT DI juga ikut ketiban rejeki. Pertama, PT DI tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun karena pengembangan pesawat ini dibiayai oleh Turki. Kedua, dari proyek ini PT DI bisa menambah satu varian CN235 serhingga bisa memberikan banyak pilihan bagi calon konsumen. Ketiga tentu saja pengalaman teknologi perancangan dan modifikasi pesawat terbang menjadi varian ASW.

Seolah tak hanya ingin fokus pada lini produk pesawat militer, PT DI kemudian juga mengembangkan produk pesawat sipilnya melalui program CN235NG (Next Generation). Pesawat yang tak lain merupakan generasi penerus dinasti CN235 ini akan dibuat beda dengan versi militer. Perubahan yang paling mencolok diantaranya menghilangkan fasilitas ramp door. Sayangnya sampai saat ini program ini masih belum jelas kelanjutannya. Padahal kebutuhan akan pesawat penumpang di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Berikutnya ada pesawat N250 dan N2130 yang sempat menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Untuk pesawat N250 berhasil terbang perdana tahun 1995 dan sampai saat ini telah berhasil dibuat dua prototipe. Kedua prototipe N250 kini masih berada di hanggar PT DI. Sempat tersiar kabar pesawat ini akan dihidupkan kembali dengan nama N250 Air.


Pesawat baru ini tidak akan memakai teknologi fly by wire. Dengaan “membuang” teknologi fly by wire  maka harga N250 Air akan menjadi lebih murah dan lebih kompetitif di pasar pesawat penumpang dunia. Tapi lagi-lagi proyek ini berhenti ditengah jalan. Hal yang sama juga terjadi pada N2130. Namun nasib N2130 lebih mengenaskan dari N250. Tak lain karena proyek satu ini hanya berhenti pada tahap preliminary design. Bahkan ditahun 2002 silam, sempat tersiar kabar tentang rencana penjualan blue print N2130 (berupa rancangan awal dan hasil uji wind tunnel).

Pengalaman kegagalan diproyek pesawat terbang di kelas 50 penumpang keatas membuat PT DI untuk mengalihkan fokusnya membuat pesawat dalam ukuran yang lebih kecil. Dari sinilah muncul ide mengembangkan pesawat ukuran kecil yang diberi nama N219. N219 dirancang untuk mengisi ceruk pasar pesawat angkut sipil (meskipun sebenarnya juga bisa dikembangkan untuk keperluan misi khusus, seperti Medevac, surveillance, dan maritime patrol aircraft—kiat ini mungkin biar tidak saling “membunuh” dengan C212-400) sedangkan C212-400 lebih difokuskan untuk keperluan militer karena punya ramp door.

Menyoal C212-400, awalnya PT DI hanya mendapatkan hak untuk membuat airframe pesawat, sedangkan sisanya (bagian finishing dan delivery ke pelanggan) jadi hak Airbus, dengan kata lain PT DI hanya sebagai tempat pembuatan komponennya. Kerjasama ini memang berbeda dengan pembuatan NC212-200—yang semua (mulai dari pembuatan part manufacturingfinal assemblysystem integration, dan delivery-nya) dilakukan oleh PT DI.

C212-400 (foto: Airbus Military)
Baru pada tahun lalu hak untuk membuat dan menjual C212-400 didapatkan PT DI. Saat ini yang sedang digarap adalah pesanan pesawat C212-400 dari Ministry of Agriculture and Cooperatives (MoAC) Thailand, bila tak ada halangan delivery-nya akan dilakukan pada tahun 2013. Sebelumnya MoAC juga sudah membeli pesawat dari PT DI, yaitu CN235 untuk melakukan hujan buatan.

Kemudian ada proyek jet ringan komersial NMX (Nusantara Malaysia eXperimental) hasil kerja bareng PT DI dengan Aeronimbus Aircraft Sdn Bhd yang kerjasamanya ditandatangani tahun 2005 silam. Dalam proyek NMX, PT DI berkontribusi pada desain, pembuatan detail part, dan prototype pesawat sedangkan Aeronimbus (sebagai penyandang dana) bertugas melakukan final assembly dan mengurus proses sertifikasi pesawat.

Seperti umumnya pesawat kategori Very Light Jet (VLJ), NMX di rancang khusus bagi para eksekutif perusahaan. Dilihat dari sosoknya, pesawat yang pembuatannya sudah mencapai tahap preliminary design (sumber lain menyebut NMX sudah di uji terbang—dengan kata lain prototype-nya sudah jadi) ini bakal menyandang dua mesin jet di kiri-kanan body. Untuk kapasitasnya, pesawat satu ini mampu membawa 6 penumpang. Sampai saat ini proyek NMX masih belum jelas kelanjutannya. Kabarnya proyek ini terhenti karena penyandang dana mengalami kesulitan keuangan untuk membiayai kelanjutan proyek pesawat VLJ ini.

Diluar itu masih ada TC35 (berdasarkan paparan Dirut PT DI pada peringatan Harteknas 2011). Sampai sekarang penulis masih belum mengetahui apa yang dimaksud dengan pesawat TC35. Tetapi menurut dugaan penulis kemungkinan yang dimaksud adalah DiLA (Dirgantara Light Aircraft).(Yudi Supriyono)

Artikel Terkait:

25 Januari 2012

Kebangkitan Industri Pertahanan Indonesia

Prototype tank ringan buatan Pindad (Foto:  Audrey)
Pembelian alutsista dari negara lain sebenarnya merupakan hal yang biasa dan bukan hal aneh. Hal seperti ini sudah lumrah dilakukan di banyak negara. Tak hanya negara-negara dengan label miskin dan berkembang tetapi juga dilakukan negara-negara maju.

Pembelian alutsista oleh suatu negara biasanya didasari faktor ketiadaan industri pertahanan lokal sehingga pembelian alutsista asing mau tak mau harus dilakukan. Sedangkan bagi negara yang telah memiliki industri pertahanan biasanya terjadi karena alutsista yang di inginkan belum mampu diproduksi sendiri atau sudah mampu diproduksi tetapi masih terbatas pada kualitas yang bisa dikatakan belum memiliki kecanggihan tinggi.

Dari banyak segi, sebenarnya pembelian alutsista asing bukannya tanpa keuntungan. Dari segi kualitas, alutsista impor jelas sudah terjamin (terutama alutsista dari negara yang selama ini dikenal sebagai produsen alutsista global, seperti AS, Prancis, dan Rusia), alutsista impor juga membuat suatu negara mampu mengakses alutsista berteknologi tinggi sehingga tidak ketinggalan dengan negara lain. Selain itu yang tak kalah penting bagi negara dengan anggaran minim, impor alutsista memberikan keuntungan karena adanya iming-iming kemudahan pembayaran.

Tapi toh pembeliannya juga membawa beberapa kerugian. Dari sisi ekonomi, pembelian alutsista asing dalam kuantitas banyak akan mendorong pemborosan devisa negara sehingga bisa menyebabkan defisit neraca pembayaran dengan negara penjual. Impor alutsista juga membuat negara pembeli dalam posisi tidak aman, karena bakal rentan terkena ancaman embargo jika negara pembeli tidak memiliki hubungan politik yang baik dengan negara penjual atau menggunakan alutsista secara tidak benar seperti pelanggaran HAM. Dalam hal ini negara-negara seperti Indonesia, Iran dan Venezuela bisa menjadi contohnya.

Mati Suri

Bagi Indonesia, pembelian pesawat tempur Sukhoi beberapa waktu lalu bisa menjadi salah satu bukti bahwa impor alutsista juga menghampiri negeri ini. Langkah impor ini bisa kita kembalikan kepada posisi Indonesia. Jika boleh jujur, sebenarnya selama ini Indonesia memang belum menguasai sebagian besar teknologi pembuatan alutsista teknologi tinggi. Sehingga untuk menutupi “kekosongan”, pengadaan alutsista dari negara lain menjadi salah satu pilihan.

Hal ini suka tidak suka memang harus diakui karena fakta di lapangan berbicara. Alutsista asing bisa ditengok dari daftar belanja peralatan militer sejak era Orde Baru hingga sekarang mulai dari pesawat tempur (Su-27/Su-30), kapal perang (SIGMA), kapal selam (Changbogo), tank (Scorpion, BMP-3F) hingga radar pertahanan udara (Thomson). Peralatan militer itu entah sedikit entah banyak merupakan alutsista buatan dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Inggris, dan Jerman.

Sebagai gambaran jika pembelian alutsista yang dilakukan Indonesia diakumulasikan nilainya, bisa dibayangkan berapa devisa yang dikeluarkan oleh bangsa ini untuk membelinya? Yang jelas jumlah itu tidaklah sedikit, dan tak akan murah layaknya hanphone China yang memenuhi pasar handphone di Indonesia.  Dari sini kemudian kita dikejar dengan pertanyaan: dimana industri pertahanan Indonesia?

Sedikit menengok ke masa Orde Baru, industri pertahanan Indonesia pernah mengalami kemajuan yang luar biasa. Industri ini pernah menjadi “anak emas” terutama sejak B.J Habibie menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi. Sebagai contoh pembuatan roket FFAR (Folding Fin Aerial Rocket), SUT Torpedo, dan komponen jet tempur F-16 oleh PT DI, kemudian pembuatan senapan serbu SS-1 oleh PINDAD, serta pembuatan kapal patroli cepat FPB-57 oleh PT PAL.

Namun, sejak krisis moneter melanda negeri ini, industri pertahanan kita mengalami “mati suri”. Beragam persoalan melanda industri strategis ini, mulai dari masalah keuangan hingga tidak adanya apresiasi beberapa kalangan terhadap alutsista buatan industri pertahanan dalam negeri. Sikap alergi beberapa kalangan terhadap pemakaian alutsista buatan bangsa sendiri seakan menambah batu sandungan kelangsungan hidup industri pertahanan dalam negeri.

Ditengah persoalan yang membelit, industri pertahanan sebagai salah satu pusat penguasaan teknologi pertahanan mengalami kemandekan. Penelitian dan pengembangan teknologi pertahanan seakan terputus. Jangankan untuk menciptakan alutsista anyar, untuk tetap survive pun industri ini sudah kewalahan. Ibarat manusia, hidup segan mati tak mau.

Disisi lain, nasib TNI juga tak kalah mirisnya. Gara-gara pelanggaran HAM di Timor Timur membuat AS langsung tancap gas menjatuhkan embargo militer kepada TNI. Imbasnya tentu saja kesiapan armada tempurnya anjlok. Fakta itu makin diperparah dengan naiknya nilai tukar dollar AS terhadap rupiah yang kemudian membuat daya beli alutsista TNI menurun.

Bangkit

Beragam cerita pahit dimasa lalu kemudian menjadi pijakan pemerintah untuk menata kembali industri pertahanan nasional. Bisa dikatakan pemerintah kita sudah kapok dengan tingginya ketergantungan alutsista asing. Langkah ini juga seolah menjadi kilas balik niat tulus pemerintah untuk tak mengulang kesalahan yang sama dimasa lalu. Satu tujuan besar dan amat penting kemudian ditetapkan. Tujuan itu apalagi jika bukan untuk menuju kemandirian pembuatan alutsista yang mampu mendukung kebutuhan alutsista TNI.

Upaya bangkit itu mulai terlihat dalam beberapa tahun ini. Pemerintah mulai serius membangun industri pertahanan dalam negeri. Banyak cara dilakukan untuk membuat industri ini mekar kembali, mulai dari kerjasama produksi (joint production), lisensi, hingga membuat alutsista dengan kemampuan sendiri.

Buah dari hasil kerja keras ini bisa dilihat dari kondisi industri pertahanan yang mulai mengalami kemajuan berarti. Hal ini bisa ditengok dari makin menjamurnya produk alutsista buatan industri pertahanan dalam negeri. Alutsista yang muncul tak hanya terbatas pada alutsista matra udara, tetapi juga di ikuti dengan kemunculan alutsista matra darat dan laut yang juga tak kalah seru meramaikan kebangkitan alutsista buatan dalam negeri.

Di matra udara kita bisa melihat kebangkitan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang sedikit demi sedikit mulai mengepakkan sayapnya untuk terbang lebih tinggi. Beberapa produk anyar yang sedang digarap diantaranya pesawat tempur KF-X/IF-X dan pesawat perintis N-219. Khusus untuk proyek pesawat tempur KF-X/IF-X merupakan pertama kali ditangani oleh industri pesawat terbang plat merah tersebut. Jika terwujud sekaligus mampu menaikkan kelas PT DI menjadi salah satu produsen pesawat tempur dunia.

Tak ketinggalan pula di matra laut melalui PT PAL kita mampu membangun LPD yang merupakan hasil kerjasama pertahanan dengan Korea Selatan. Kerjasama ini semakin erat dengan alih teknologi pembuatan kapal selam Changbogo yang akan dilakukan dengan model silang lokasi. Dari tiga kapal selam yang dibeli, dua dibuat di Korsel dan satu akan dibuat di Indonesia.

Dimatra darat, PT Pindad juga tak kalah gesit dengan menunjukkan bukti bahwa akumulasi pengetahuan yang didapatnya selama ini mampu diwujudkan menjadi suatu arsenal tempur mumpuni. Jika awalnya hanya mampu membuat senapan dan mortir, sedikit demi sedikit kemampuan PT Pindad mulai meningkat. Setelah sebelumnya berhasil membuat panser Anoa, kini pabrikan senjata asal bandung ini sudah melangkah ke arah pembuatan tank.

Diluar PT DI, PT PAL dan PT PINDAD masih ada banyak industri pertahanan di Indonesia yang juga ikut mendukung pembangunan alutsista di Indonesia. Ada PT Palindo dengan produk kapal cepat rudal, ada PT Lundin dengan kapal Trimaran, ada PT Infoglobal dengan produk avioniknya, ada PT Sari Bahari dengan produk bom latih pesawat tempur dan masih banyak lagi.

Semua contoh diatas menjadi bukti bahwa industri pertahanan Indonesia mulai bangkit dan bahu-membahu membangun alutsista. Ditengah keterbatasan anggaran TNI, pabrikan alutsista Indonesia ini tak duduk diam dan menanti pesanan datang. Tapi terus berkarya menciptakan berbagai alutsista untuk memberikan bukti nyata bahwa bangsa ini mampu menciptakan alutsista made in Indonesia dengan kualitas dunia.

Yudi Supriyono, 25 Januari 2012

20 Januari 2012

Iran, Makin Perkasa Setelah di Embargo (1)

                                                     id.wikipedia.org
Isu sanksi embargo AS terhadap ekspor minyak Iran yang baru-baru ini muncul kepermukaan, bakal menjadi episode baru pertikaian kedua negara. Belum lepas dari ingatan publik, soal jatuhnya pesawat mata-mata AS yang kemudian menjadi ladang pemberitaan berbagai media di dunia. Kini  AS justru kian agresif melakukan berbagai macam tekanan untuk menghentikan aksi program nuklir Iranyang menurut Barat sebagai program senjata nuklir berbahaya.

Selama ini, AS meniupkan isu senjata nuklir sebagai salah satu upaya untuk menghalangi upaya Negeri Para Mullah menguasai teknologi nuklir. Lebih dari itu, AS sebenarnya juga merasa was-was jika Iran berkembang menjadi kekuatan militer yang dominan di kawasan regional timur tengah. Maklum, dengan perkembangan kekuatan militer Iran, otomatis akan mengancam eksistensi Israel yang sejak dulu menjadi karib AS di Timur Tengah.

Langkah sanksi embargo sebenarnya menunjukkan bahwa negeri Paman Sam juga mulai ketar-ketir dengan perkembangan militer Iran. AS dibuat gusar dengan perkembangan kemampuan militer Iran yang semakin lama semakin mengalami kemajuan berarti.

Dibalik kemajuan Iran, ada fakta menarik untuk dibicarakan. Fakta itu tak lain adalah kekuatan militer Iran yang masih sanggup survive meskipun sudah lama mendapatkan “hadiah” embargo militer dari AS. Embargo militer yang digadang-gadang bakal membuat kekuatan militer Iran jadi redup justru salah.

Iran yang di cap oleh AS sebagai poros setan justru sekarang tampil perkasa. Semakin lama kekuatan militer Negeri Para Mullah ini justru semakin bersinar terang dan bertambah garang dengan dukungan industri pertahanan lokal.

Tidak hanya sebatas menonjol pada alutsista seperti rudal tetapi mulai berkembang kearah produk militer seperti pesawat tempur, kapal perang, kapal selam, tank, radar, hingga kemampuan membuat roket hasil racikan para ilmuwan anak bangsanya.

Dari Rudal ke Roket

Dari berbagai macam senjata yang dioperasikan oleh angkatan bersenjata Iran, rudal merupakan salah satu senjata yang paling ditakuti oleh negara-negara Barat. Berbekal berbagai macam rudal itu Iran mampu membuat ciut nyali AS dan sekutunya untuk melancarkan serangannya ke Iran. Kemampuan rudal Iran yang mampu menembus kawasan Israel menjadi pertimbangan tersendiri bagi AS untuk tak menggunakan opsi militer sebagai upaya menjinakkan Iran.

Diantara daftar inventori rudalnya, rudal Shahab merupakan nama yang paling mentereng. Maklum secara teknis rudal ini termasuk rudal balistik jarak menengah (medium range balistic missile) yang mampu menjangkau sasaran-sasaran yang menjadi sekutu AS di timur tengah seperti Israel.

Uji coba rudal Shahab (foto: alutsista.blogspot.com)
Diluar Shahab, Iran juga masih mempunyai banyak stok rudal, sebut saja rudal anti-radar Fajr-3 yang mampu menghindar dari deteksi radar. Kemudian ada rudal permukaan ke udara Shahin yang memiliki jangkauan hingga 40 km dengan kemampuan menggasak helikopter dan jet tempur musuh. Rudal ini sudah di produksi masal dan menjadi salah satu tumpuan pertahanan udara Iran. Diluar itu, masih ada rudal Sejjil, Fateh, Tondar dan Zelzal.

Uniknya yang membuat takjub banyak negara adalah perkembangan teknologi rudal Iran yang diubah sedemikian rupa hingga menjadi roket. Hal ini bisa ditengok tahun 2009 lalu, dimana Iran mampu meluncurkan roket Safir dan satelit Omid buatannya ke ruang angkasa. Peristiwa bersejarah itu sekaligus mencatatkan Iran sebagai  negara ke sembilan yang mampu meluncurkan satelit dengan roket buatan sendiri.

Peralihan teknologi rudal menjadi roket sebenarnya juga pernah dilakukan oleh negara lain. Sebut saja China yang juga melakukan hal yang sama saat mengembangkan roket Long March-1 (Chang Zheng-1), dimana roket tersebut merupakan hasil modifikasi dari rudal balistik antarbenua Dong Feng (Angin Timur) DF-4. Sedangkan Iran, menurut beberapa sumber, mengembangkan teknologi roket Safir dari rudal Shahab-3. (Bersambung)

Yudi Supriyono, 20 Januari 2012